Senin, 19 Juni 2017

PERSEBAYA 90 TAHUN (1) : LEGENDA KEMBALI BERJAYA

Oleh : Nindi Widiara (Bonita Campus UPN VJT) 

Ijo ijo ijo ijo ijo, teriakan yang kerap saya dengarkan saat perjalanan menuju Gelora Bung Tomo bersama puluhan dulur Bonek dengan semangatnya mengibar-ngibarkan giant flag dan syal kebanggaannya. Laga perayaan anniversary Persebaya melawan Persik kediri memang masih lama untuk dimulai, mengingat saya berangkat masih sore hari dan laga pembuka akan dimulai dengan Legend Persebaya yang akan bermain mulai pukul 18.30 WIB.

Sesampainya saya di area luar GBT, euforia perayaan bertambahnya usia Persebaya semakin membuat bulu dipergelangan tangan saya berdiri alias merinding. Mulai anak-anak, kaum perempuan yang terlihat masih remaja hingga sudah berumur senja pun dengan semangatnya mereka ingin segera masuk ke dalam GBT, ya karena mereka tidak ingin melewatkan momen berdiri ataupun duduk bahkan yakyak’an di tribun saat Legend Persebaya memulai laga eksebisinya. Saya paham, mungkin dari beberapa yang saya sebutkan masih belum memahami siapa saja pemain yang masuk di tim Legend Persebaya putih dan hijau dari dekade 1970, 1980, dan 1990an, bahkan jika ditanya untuk menyebutkan pemain siapa saja yang mewakili per dekade, saya sendiri juga masih kesulitan untuk menjawab dengan benar dan lengkap, tetapi jauh dari hal tersebut saya bangga sekali bisa melihat rasa gemas, kezel (kata ABG jaman edan sekarang) atau ketawanya mereka sewaktu melihat para sesepuh itu menendang bola. Bagaimana tidak gemas seakan ingin mencubit pipi kirana (anak kecil yang hitz karena kecerdasannya di Instagram) lha wong yang niatannya mau menendang bola, eh malah rumput yang kesepak, yang dengan yakinnya mau mengoper bola ke partner timnya eh malah jatuh njelongop, bahkan bola belum diterima saja dengan tataknya loncat untuk oper bola keatas.

Betapa kagumnya saya dengan semangat yang masih terlihat dari beliau-beliau ini, mereka yang di lapangan dan bangku cadangan mengajak kita untuk mau tau dan mau belajar tentang sejarah panjang perjuangan mereka dahulu seperti apa saat membela Persebaya. Persebaya yang besar hingga detik ini, tidak terlepas dari kerja keras dan kesolidan para pemain serta jajaran manajemen yang dulu jatuh bangun mempertahakan ciri khas permainan, karakter, dan ikon Arek Suroboyo.

Seperti Maura Hally, Muharrom Rusdiana, Putu Yasa, Yongki Kastanya, Mustaqim adalah beberapa pemain yang sering saya temui saat momen yang berkaitan dengan Persebaya dan Bonek. Melalui mereka, saya seakan diajak kembali untuk mengingat masa keemasan mereka, lebih tepatnya mereka yang mengingatkan sambil menceritakan perjalanan awal mula karir mereka dari klub internal, berhasil menembus skuad Persebaya dan ada yang sukses berkarir di Timnas Indonesia.

Tentunya karena saat mereka bermain, saya masih belum lahir di Bumi ini, bahkan mungkin ayah dan ibu saya masih menerawang akan seperti apa wujud anak keduanya ini. Saya memulai untuk berimajinasi saat bibir sesepuh tersebut dengan gayengnya memulai kisahnya. Dari yang kesulitan mempunyai sepatu untuk latihan, harus pulang pergi menempuh jarak yang lumayan jauh, atau harus berlatih dengan keras agar tetap bisa bermain di tim inti. Melihat mereka bercerita, tidak jarang saya melihat guratan senyum bahagia dan rasa bangganya tentang kenangan manis bermain di Persebaya, mengingat siapapun di lubuk hati paling dalam mempunyai keinginan untuk bermain dan membela klub berjuluk bledug ijo.

Tidak sedikit yang tertawa terbahak-bahak sambil mengeluarkan joke saat Rudy Kletjes keluar digantikan dengan pemain lain, beliau berjalan sambil memegangi pinggang kirinya, “boyok e Rudy kumat mari body cash” atau celetukan lainnya seperti “pemaine bingung kape ngegolno, wong podo nggowo jeneng Persebayae, engkok dipikir bunuh diri”, dan celetukan lainnya. Hingga akhinya pertandingan Legend Persebaya hijau dan Legend Persebaya putih usai ditutup dengan penyerahan jersey bertanda tangan seluruh pemain Legenda Persebaya yang diberikan kepada mantan manajer tim Persebaya kala itu, yaitu Dahlan Iskan.

Persebaya Legend bersama Dahlan Iskan (Sumber : @officialPersebaya)

Dari nama-nama yang saya sebutkan, memang mayoritas adalah pemain dekade 1980an, kenapa saya bisa tahu? Yups, saya bersyukur pernah menjadi bagian dari pelaksanaan pameran Mahakarya Bonek Campus History Of Persebaya, dimana saya dan teman-teman Bonek Campus bersatu padu mengesampingkan prioritas kami selain kuliah dan bekerja dengan merangkai konsep pameran yang menampilkan sejarah Persebaya kurang lebih dari dekade 1970, 1980, 1990, dan 2000an keatas. Melalui pameran tersebut, saya mendapatkan pengalaman dan hal baru yang saya peroleh. Bahwa PERSEBAYA JAUH LEBIH SANGAR DARI YANG SAYA KIRA DAN PIKIRKAN. Bahwa Persebaya yang kita bangga-banggakan bukan hanya dihuni oleh Andik Vermansyah, Evan Dimas, Zheng Cheng, Rendy Irwan, Misbakhul Solikhin atau abdul aziz yang kerap membuat kaum hawa di tribun berteriak dengan nggetunya, termasuk saya juga sih, tetapi Persebaya yang besar akan prestasinya, besar akan sumbangsih pemainnya ke Timnas Indonesia, dan besar dengan segala kebanggaannya yaitu dahulunya tidak terlepas dari usaha yang keras, kesolidan, keloyalan, dan kesetiaannya dari para pemain legenda terdahulu, yang mungkin kita belum mengikuti permainanya karena belum lahir dan lain-lain.

Melalui Anniversary Persebaya ke 90 tahun kemarin, melalui PT.JPS, manajemen mengajak kita untuk kembali mengingat apa yang diucapkan oleh Presiden Klub tentang sejarah, yang bunyinya learn history, use history, and make history. Yang artinya pelajarilah sejarah, gunakanlah sejarah, dan ciptakan sejarah. Poin tentang pelajarilah sejarah, bagaimana pandangan kita tentang para legenda Persebaya ini, bahwa mereka juga bagian terpenting dari jayanya Persebaya, dan sepatutnya kita menghargai perjuangan beliau-beliau dari dekade berapapun, karena melalui perjuangan merekalah, hingga detik ini, walaupun Persebaya sempat dipaksa mati untuk beberapa tahun, tetapi kita masih bisa berkumpul, bernyanyi, berangkulan, dan bisa menyaksikan “masa kembalinya kejayaan” mereka di lapangan hijau dengan siapapun di GBT dalam perayaan anniversary Persebaya yang ke 90 tahun.


Panjang umur PERSEBAYAKU, panjang umur perjuangan kita selama ini, dan panjang umur untuk para legenda Persebaya yang masih hidup, semoga di tahun berikutnya kita masih dipertemukan dengan beliau-beliau di lapangan hijau. WANI!

Jumat, 02 Juni 2017

MENOLAK LUPA AROGANSI APARAT TIGA JUNI



oleh: Reza Kriztiawan (Bonek Campus ITATS)

Minggu, 3 Juni 2012 pertandingan lanjutan kompetisi Indonesia Premiere League atau yang disingkat IPL mempertemukan tuan rumah Persebaya melawan Persija Jakarta 1928 di stadion Gelora 10 November Surabaya. Saat itu Persebaya yang diperkuat berbagai macam pemain seperti Andik Vermansah, Mat Halil, Fernando Soler, dll memang diunggulkan untuk menang mengingat mereka bertanding di kandang sendiri. Persija sendiri bukan tanpa kekuatan, mempunyai mantan pemain Persebaya yaitu Danilo Fernando serta De Porras juga patut untuk diwaspadai.

Danillo Fernando mengamankan bola dari Karlovic

Kick Off berlangsung,jual beli serangan terjadi kala itu. Persebaya yang diharuskan menang bermain ngeyel agar dapat unggul terlebih dahulu, namun justru Persija yang bermain lepas tanpa beban seakan menampilkan permainan yang terbuka. Alhasil Persija unggul terlebih dahul 2 gol lewat sundulan dan sepakan dari De Porras, Persebaya 0-2 Persija. Persebaya langsung merespon,melalui pinalti dari Oktavio Dutra di kota pinalti dan sepakan Fernando Soler mampu membuat Persebaya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Sampai di menit akhir pertandingan, lagi De Porras membuat seisi Gelora 10 November Surabaya terdiam setelah De Porras membuat Persija unggul dengan skor 2-3. Saat-saat pertandingan akan berakhir dengan kemenangan Persija, Fernando Soler membuat kejutan lewat sepakannya yang berujung gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Pertandingan yang membua seisi stadion bergemuruh dan wasit meniup peluit berakhirnya pertandingan, Persebaya 3-3 Persija Jakarta 1928.
Seperti yang dilakukan sebelum-sebelumnya, setelah pertandingan berakhir beberapa Bonek lantas ingin memasuki lapangan untuk melepas spanduk yang dipasang disisi pagar tribun bukan memasuki lapangan untuk berbuat ricuh. Namun respon berlebihan ditunjukkan oleh bapak polisi yang terhormat, mereka lantas seperti melarang serta memberikan ayunan tongkatnya kepada beberapa Bonek yang ingin melepas spanduk mereka.

Polisi menembakan gas air mata ke tribun penonton
Kericuhanpun semakin menjadi,Bonek yang tak terima lantas memberikan perlawan kepada polisi sehingga menyulut tindakan dari Bonek yang berada ditribun. Ayunan tongkat dari polisi makin membuat situasi semakin tak terkendali. Polisi lalu membabi buta melepaskan tembakan gas air mata ke arah kerumunan suporter. Suasana pun menjadi panik. Suporter kemudian berebut keluar dari stadion untuk menghindari gas air mata yang membuat mata pedih.

Efek dari gas air mata (sumber: google)

Seharusnya aparat cukup mundur untuk menghindari lemparan/koordinasi dengan pentolan2 bonek untuk menenangkan jika memang dianggap berpotensi rusuh. Tapi yang dilakukan malah sebaliknya, aparat memilih melakukan tindakan represif memilih menembakkan gas air mata ke arah semua tribun secara membabi buta. Kericuhan yang terjadi bukan hanya didalam stadion melainkan sampai meluber diluar stadion yang menimbulkan beberapa korban anak kecil dan beberapa kerusakan. Ya, ke arah tribun LANGSUNG, hasilnya? Jelas Bonek semburat, panik, dan berlarian. Banyak Bonek maupun Bonita yang setelah berhasil keluar stadion tergeletak baik karna sesak, ataupun perih matanya. Kericuhan yang terjadi bukan hanya didalam stadion melainkan sampai meluber diluar stadion yang menimbulkan beberapa korban anak kecil dan beberapa kerusakan.

Seorang Bonek kecil yang menjadi korban di luar stadion

Dan yg membuat kami Bonek bersedih, dikabarkan rekan kita dulur semua Purwo Adi Utomo menghembuskan nafas terakhirnya.
Dalam kondisi tersebut, Purwo Adi Utomo, terjatuh dari tribun ekonomi lalu terinjak-injak rekan-rekannya yang panik hingga meninggal. Setelah dibawa pulang dari RSUD Dr Soetomo, Jenazah Tomi lalu dimakamkan keesokan harinya di TPU Asem Jajar dekat dengan rumah almarhum.
Kalau kami boleh bertanya pak polisi, sebagai warga negara yg harusnya bapak layani dan ayomi, dan juga sebagai supporter sepakbola. Apakah salah kami datang ke stadion, mendukung tim kebanggaan kami, sampai bapak harus menembakkan gas air mata kearah kami? Kenapa bapak memilih menembakkan gas air mata yang seharusnya itu menjadi pilihan terakhir? Apakah tembakan gas air mata sudah bapak anggap tepat dengan kondisi didalam tribun banyak anak kecil dan wanita? Sungguh kami menyesalkan tindakan tersebut pak, melepaskan gas air mata hingga rekan kami meninggal dunia. Kini kami hanya bisa berharap adanya keadilan, dan tidak ada lagi kejadian serupa/menyerupai kejadian tsb #StopKekerasanTerhadapSupporter.

Salah satu sudut stadion Gelora 10 November saat ini


Untuk teman sekaligus rekan kami, Purwo Adi Utomo, tenang di tribun Surgamu dan mari mendoakan almarhum agar selalu berada di sisi-Nya dan kami berharap kepada aparat, untuk lebih jeli memilih cara-cara dalam mengamankan sebuah pertandingan, cara-cara preventif bukan Represif !


Salah satu mural disudut kota Surabaya yang didedikasikan kepada almarhum

Sabtu, 27 Mei 2017

TENTANG NAHKODA BARU GREEN FORCE

oleh :
Bonek Campus

Terjawab sudah sang nahkoda anyar dari Green Force paska pemecatan Iwan Setiawan yang dianggap gagal oleh manajemen, Persebaya langsung memburu pelatih kepala baru untuk mengarungi Liga 2 selanjutnya. Yaitu Alfredo Vera, pelatih berkebangsaan Argentina. Mantan pelatih dari kesebelasan di Liga 1, Persipura Jayapura. Sebelum melatih Persipura, Alfredo Vera juga sempat menjadi asisten pelatih dari Subangkit di Persela Lamongan serta pernah juga menjadi pelatih Persegres Gresik United. Memang pelatih asal Tango ini sukses mengantarkan Persipura menjuarai Indonesia Soccer Championsip (ISC) A pada tahun 2016-2017 atau sebelum disenggelarakannya Liga 1 oleh PSSI, namun pertanyaannya kenapa ia dipecat oleh Persipura? Ada sedikit mengenai Alfredo, bukan tentang kinerjanya melainkan tentang lisensi kepelatihan yang ia miliki. Belum ada sumber terpercaya mengenai ini, namun lisensi A UEFA disebut menjadi polemik hingga Persipura memutus kontrak pelatih asal Argentina tersebut dalam mengarungi kompitisi Liga 1.


Alfredo Vera (kedua dari kiri) saat bersama Presiden Klub, Azrul Ananda

Sabtu sore, 27 Mei 2017, manajemen Persebaya mengumumkan pelatih barunya. Tepat di Mess Persebaya tadi, Alfredo Vera langsung dikenalkan kepada publik. Tidak hanya itu, manajemen Persebaya juga memperkenalkan asisten pelatih baru Persebaya yaitu Esteban Horacio Busto. Bersama Alfredo, Busto memang “sepaket” waktu mereka dulu bersama-sama mengantarkan Persipura juara ISC A. Namun ada yang datang, tentu ada pula yang pergi. Setelah kedatangan asisten pelatih Persebaya yang baru,bagaimana nasib dari asisten pelatih Persebaya yang lama yaitu Ahmad Rosidin? Belum dapat dikonfirmasi apakah Ahmad Rosidin akan dipertahankan ataupun juga didepak akibat kedatangan asisten pelatih baru tapi menurut sumber yang terpercaya Ahmad Rosidin seakan memberikan sinyalnya untuk pergi dati tim Bajol Ijo.
Sebagaimana yang terlihat di sepakbola Eropa sana, biasanya pelatih baru memiliki tim sendiri. Untuk nasib tim pelatih yang lama, kami berharap manajemen memberikan keterangan untuk itu. Bukan hanya tentang nasib tim pelatih yang lama, manajemen juga harus menjelaskan tentang lisensi kepelatihan Alfredo Vera. Seperti yang diketahui, Alvredo Vera didepak dari Persipura karena permasalahan lisensi pelatih.
Lalu bagaimana dengan komposisi pemain? beda pelatih tentu saja beda taktik permainan. Entah strategi apa yang akan digunakan oleh Alfredo Vera, harapannya tentu saja komposisi pemain saat ini bisa menunjang strategi permainan yang terbaik oleh pelatih baru. Sehingga Persebaya bisa menjadi tim yang solid dan tidak melupakan karakter khasnya.
Hubungan pelatih asing dengan Persebaya nampaknya bisa dikatakan sukses saat era Jackson F. Tiago pada tahun 2004. Saat itu Persebaya keluar menjadi kampiun Liga Indonesia dibawah pelatih asal Brasil tersebut. Selepas itu, pernah juga Persebaya diarsiteki oleh pelatih asing, Fabio Oliviera. Pelatih asing asal Brasil itu resmi menukangi Bajol Ijo di tahun 2013 menggantikan Ibnu Graham yang mengundurkan diri di jeda kompitisi IPL tahun 2013. Hanya saja kompetisi tersebut berhenti sebelum akhir musim,dengan  kata lain Fabio harus mengakhiri karirnya lebih awal dengan kata lain Fabio belum bisa membawa Green Force menjuarai kompetisi tersebut.
Sekarang beban berat ada dipundak Alfredo Vera, mampukah Persebaya di bawah asuhan Alfredo Vera dengan komposisi pemain muda yang sekarang dapat menunjukkan bukti kepada publik surabaya untuk menjuarai Liga 2 Indonesia? Kita tunggu saja tangan dingin Alfredo Vera dalam membesut tim asal Surabaya yaitu Persebaya.
           
Sedikit biodata tentang nahkoda baru dari Persebaya:

            Nama               :  Angel Alfredo Vera
Tanggal lahir   :  18 Agustus 1974
Kebangsaan     :  Argentina

Karir sebagai Pemain
2008/2009       :  PSS Sleman
2007/2008       :  PSAP Sigli
2006/2007       :  Persekap Kota Pasuruan                                              
2005/2006       :  Persekap Kota Pasuruan                                              
2004/2005       :  Persekap Kota Pasuruan                                              
2002/2003       :  Delfin SC (Ecuador)                                                   
2001/2002       :  Macara Ambato (Ecuador)                                          
2000/2001       :  LDU Quito (Ecuador)
2000/2001       :  Aucas Quito (Ecuador)
1999/2000       :  Aucas Quito (Ecuador)
1999/2000       :  Olmedo (Ecuador)
1998/1999       :  Olmedo (Ecuador)                                                      
1998/1999       :  Minervén (Venezuela)                                                 
1997/1998       :  Minervén (Venezuela)                                                 
1996/1997       :  Leandro N. Alem (Argentina)                                                 
1995/1996       :  Leandro N. Alem (Argentina)                                                                      

Karir Sebagai Pelatih
2017    :  Persebaya
2016    :  Persipura Jayapura
2014    :  Persegres Gresik United
2014    :  Persela Lamongan (asisten pelatih)
2013    :  Persela Lamongan (asisten pelatih)

Senin, 22 Mei 2017

MENANTI SANG NAHKODA BARU PERSEBAYA


Oleh:
Reza Kriztiawan
(Bonek Campus ITATS)

Rentetetan hasil yang kurang maksimal di dua laga awal Liga 2 yaitu bermain imbang 1-1 melawan Madiun Putra di kandang dan kalah melawan Martapura FC di Banjarmasin, ditambah kontroversi “acungan jari” dan peristiwa “pisau dapur” yang dilakukan Iwan Setiawan setelah laga melawan Martapura FC membuat manajemen Persebaya terlebih Bonek menjadi geram.
Memang manajemen setelah laga itu memberi sangsi kepada Iwan yaitu skorsing 1 laga tidak boleh mendampingi tim serta denda yang berjumlah 100 juta. Namun Bonek belum puas, mereka menuntut agar dilengserkannya Iwan yang terbukti tak mempunyai attitude tidak baik pada saat di Banjarmasin.
Dengan begitu, skuad Green Force untuk sementara diambil alih oleh sang asisten pelatih yaitu Achmad Rosidin hingga sangsi Iwan Setiawan telah usai.
Liga 2 terus bergulir, pertandingan Persebaya melawan Persepam Madura Utama tanggal 11 Mei 2017 di Gelora Bung Tomo Surabaya sudah berjalan. Tanpa adanya sang pelatih kepala Iwan Setiawan, Persebaya seakan bermain lepas dan sukses melumat Persepam Madura Utama dengan skor 3-1.
Hasil positif ini, seharusnya Iwan Setiawan sudah kembali mendampingi tim pada saat akan bertolak menuju Jogjakarta pada tanggal 18 Mei 2017 guna akan melawan tuan Rumah PSIM, namun agar kondisi positif tetap terjaga, manajemen memutuskan pelatih kepala masih diambil alih oleh Achmad Rosidin untuk sementara waktu.Hasilnya? Persebaya sukses menahan imbang tuan rumah PSIM dengan skor 1-1.

Spanduk Tuntutan Bonek Saat Persebaya Berlaga di GBT

Desakan dari supporter Persebaya agar dilengserkannya Iwan Setiawan kian bertubi-tubi, terlepas dari aksi kontroversi Iwan Setiawan, terbukti dengan tanpa adanya Iwan seakan para punggawa Green Force bermain lepas dan tanpa beban. Manajemen pun memberikan respon atas desakan dari suporternya dan langsung mengambil sikap.
Secara resmi akhirnya manajemen Bajol Ijo mengeluarkan pernyataan terkait masa depan dari pelatih kepala Persebaya, Iwan Setiawan. Senin pagi, tanggal 22 Mei 2017 lewat direktur tim Persebaya, Candra Wahyudi, manajemen mengumumkan atas pemberhentian dari Iwan Setiawan sebagai pelatih kepala. Pemberhentian pelatih tersebut memang sudah banyak diinginkan oleh banyak pihak termasuk suporter Persebaya sendiri yaitu Bonek.
Dengan begitu, posisi pelatih kepala dari Green Force untuk sekarang akan kosong. Tidak mungkin asisten pelatih Persebaya akan menjadi pelatih kepala tim karena Achmad sendiri masih memiliki lisensi pelatih B Nasional. Mengapa tidak bisa? Karena akan berbenturan dengan regulasi Liga 2 yaitu semua pelatih kepala tim harus memiliki minimal lisensi C AFC atau setara. Dengan kata lain manajemen harus mencari siapa yang cocok menggantikan Iwan Setiawan di pelatih kepala.
Banyak pihak terutama Bonek yang menanti kehadiran pelatih anyar dari klub tercintanya tersebut. Memang bukan perkara mudah menjadi pelatih tim sekelas Persebaya.
Selain memiliki target Juara Liga 2 ataupun minimal lolos ke Liga 1 di musim depan,jangan lupa Persebaya juga mempunyai suporter yang dikenal militan dan kritis jika tim pujannya tidak sesuai dengan harapan. Dengan kata lain, disamping memiliki taktik yang cerdas, attitude yang baik, pelatih Persebaya kelak juga harus memberikan karakter arek Suroboyo kepada tim yang diasuhnya.
Karakter yang gagah, ngeyel, wani, dan memiliki semangat berjuang hingga akhir pertandingan adalah karakter dari arek Suroboyo itu sendiri. Seperti halnya Bonek, suporter Persebaya sendiri yang memiliki karakter tersebut.
Terhitung dari jaman penjajahan Belanda dulu, arek-arek Suroboyo yang pantang menyerah berhasil mengusir Belanda dari Indonesia sampai Persebaya dizolimi PSSI hingga sekarang Persebaya kembali ke habitatnya, karakter arek masih ada dialam diri Bonek. Maka karakter itulah yang kelak harus bisa dimiliki kepada tim Persebaya sendiri.
Pelatih baru Persebaya harus paham juga, apapun yang terjadi kepada Persebaya maka Bonek yang akan menjadi garda paling depan mengawal Persebaya. Apapun itu yang terjadi, berjaya ataupun terpuruk makan Bonek yang akan tetap setia bersama Persebaya.

Suporter Persebaya Total Dalam Memberikan Dukungan Kepada Timnya

Menarik memang menunggu “Nahkoda Baru” dari Green Force yang rencana menurut manajemen akan diumumkan di 2 hari kedepan. Semoga pilihan pelatih dari manajemen kelak akan membuat Bajol Ijo kembali berjaya dan mampu memberikan kado Juara Liga 2 kepada Persebaya yang tahun ini akan memasuki usia ke 90 tahun. Persebaya Selamanya!


SALAM SATU NYALI WANI !!!

Sabtu, 20 Mei 2017

JAWABAN BONEK ATAS PENOLAKAN WARGA BANTUL

Oleh:
Riansyah Dalimunthe
(Bonek Campus UBAYA)

Bonek supporter dari klub sepak bola Persebaya, salah satu supporter pertama kali di Indonesia yang terkoordiir dan bisa dibilang supporter yang disegani oleh kelompok-kelompok supporter lain yang berada di Indonesia.

Kumpulan orang-orang maniak bola yang dimana mana selalu dipandang negatif dan membawa dampak yang buruk setiap kali Persebaya berlaga diluar/didalam kota Surabaya sendiri.

Pencekalan bukan hal yang baru bagi supporter ini, dan pihak-pihak keamanan setempat sangat kualahan jika Persebaya menjadi tamu di kota orang lain, bagaimana pun pencekalan yang di himbaukan sepertinya tidak menghalangi niatan mereka.

Contoh pencekalan yang baru-baru ini terjadi oleh masyarakat bantul yang tidak menghendaki hadirnya Bonek ke Stadion Sultan Agung dimana stadion tersebut berlokasi di Kab. Bantul Yogyakarta kala akan menghadapi PSIM Yogyakarta sebagai tuan rumah melawan Persebaya Surabaya di kompetisi Liga 2.

Bentuk pencekalan ini seperti yang dilakukan warga bantul tepatnya yaitu warga dusun Brajan dan Wonokromo di kecamatan Beret menghasilkan sebuah petisi yang di tujukan kepada ketua pelaksana pertandingan PSIM, pengelola stadion sultan agung dan Polres Bantul bahwa warga atas nama dusun tersebut menolak kehadiran Bonek di Bantul.

Hal ini sangat beralasan karena citra Bonek didepan masyarakat Bantul sudah terlanjur buruk karena kejadian 5 tahun yang lalu kala Persija Jakarta IPL menjamu Persebaya Surabaya di Stadion Sultan Agung Bantul tanggal 12 Juni 2012 dalam Liga Prima Indonesia (LPI).

Setelah adanya pencekalan dari warga Bantul, Bonek tidak kehabisan cara demi bisa mengawal tim kebanggaannya berlaga melawan PSIM yogyakarta.

Mereka tetap membulatkan tekad nya untuk tetap berangkat ke Bantul dengan tidak menggunaan atribute yang biasa mereka gunakan saat Persebaya Surabaya bertanding. Mereka mengusung tagline #NoAtributeNoProblem , mengingat bagi Bonek, Persebaya telah menyatu dalam diri mereka bukan hanya simbol yang dikenakan. 

Dan, gayung pun bersambut, pihak-pihak supporter tuan rumah PSIM Yogyakarta yaitu Brajamusti dan The Maident yang dimana hubungan antara Bonek dan Brajamusti/The Maident sangat baik dan mengupayakan kehadiran Bonek dibantul agar tetap terlaksana.

Pihak-pihak ini tau akan tujuan Bonek bahwa mereka akan menunjukan ke masyarakat bantul jika Bonek yang sekarang sudah mulai berubah dibandingkan 5 tahun lalu.

Hal ini benar-benar dibuktikan saat pertandingan akan dimulai hingga berakhir, Bonek bisa menjaga kondutifitas Bantul dengan baik dibandingkan dulu.

Suasana dalam Stadion Sultan Agung Bantul

Semoga moment ini bisa dilihat oleh kota-kota lain yang masih merasa paranoid dengan kehadiran Bonek saat Persebaya Surabaya akan berlaga Away di luar kota Surabaya.

Bonek sudah mulai berubah dan akan terus belajar dari pengalaman-pengalaman yang kelam dimasa dulu. 

Para Bonek Sebelum Pertandingan Dimulai

Minggu, 07 Mei 2017

SEMOGA KECINTAAN AKAN BERBALAS DENGAN HAL YANG SAMA

oleh:
Reza Kriztiawan
(Bonek Campus ITATS)


              Klub dan suporter, memang suatu kesatuan yang sulit dipisahkan bahkan mungkin takkan mungkin untuk dipisahkan. Peran suporter terhadap klubnya memang untuk mendukung, memberi semangat, mengkritik jika klubnya tak sesuai rule nya, bahkan sampai nyawapun rela mereka taruhkan untuk klubnya. Apalah arti sebuah klub jika tak sejalan dengan suporternya, tentu akan menimbulkan berbagai banyak masalah.
            Persebaya adalah salah satu klub terbesar dan tersukses di sepak bola Indonesia. Memiliki juga suporter yang sangat militan dan salah satu basis suporter terbesar di Indonesia. Ya, mereka menyebutnya adalah Bonek. Bonek dengan gagahnya selalu mendukung apapun keadaan klub pujaannya, Persebaya. Suka maupun duka bahkan tangis bahagia ataupun tangis kekecewaan ,sudah mereka lakukan untuk Persebaya. Berjuang mengembalikan Persebaya kembali ke habitat asalnya,yang selama 6 tahun mengalami suatu masalah dengan federasi hingga puasa pertandingan pun Bonek masih setia bersama Persebaya. Betapa cintanya mereka terhadap klub pujaannya. Tak terkecuali salah satu Bonek yang bernama Fajar Kurniawan.
Sejak kecil, Fajar memang terkenal salah satu pendukung fanatik Persebaya. Ia pun rutin menyaksikan pertandingan Persebaya yang pada saat itu masih bermarkas di Stadion Gelora 10 November Tambak Sari. Hingga Persebaya pindah di Gelora Bung Tomo, Fajar pun masih sering menyaksikan Persebaya berlaga. Diluar sebagai Bonek atau pendukung Persebaya, Fajar memiliki bakat yang terus ia asah.
Lelaki berkelahiran asli Suroboyo 07 Mei 1994 ini ternyata menyalurkan bakatnya lewat salah satu tim SSB di kota Surabaya. Hingga di tahun 2009, Fajar bisa menembus tim Persebaya Junior yaitu Persebaya U-15 dan itu adalah awal sepak terjang Fajar di karirnya. 

(Fajar bersama tim Persebaya U-15 menjuarai piala Medco Jatim thn 2009)
Bakatnya pun terus ia asah hingga tim jauh di ujung Pulau Sulawesi meliriknya. Yaitu PPLP Sulsel Makassar adalah petualangan fajar selanjutnya. Ia resmi dikontrak pada saat itu satu musim di tahun 2010. Permainan ngotot dan ngeyel khas arek Suroboyo ini mendapatkan tambahan durasi kontrak selama 2 tahun berikutnya
Sampai pada saatnnya di pengghujung kontraknya, ia mendapat tawaran dari klub Asal Jawa Timur lainnya. Persem Mojokerto di tahun 2012 resmi mengontrak Fajar dengan durasi satu musim. Bakat ia terus asah, terus ia latih, tujuannya hanya satu yaitu dapat menembus skuad Green Force, klub yg ia puja dari kecil dn ia cintai. Namun sayang, mulai ditahun 2010 tersebut Persebaya mengalami “Mati Suri” sampai pada akhirnya tak ada pertandingan di Kota Surabaya. Fajar terus menunggu tim pujaannya bangkit, hingga kontrakanya telah usai di Persem Mojokerto di tahun 2013.
Waktu terus berlalu hingga Fajar kembali ke kota asalnya Surabaya untuk meneruskan pendidikannya. Kala itu Fajar sedikit mengurangi di dunia sepak bola untuk melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan. Universitas Sunan Giri adalah pilihannya dan Fakultas Ilmu Tasfir adalah jurusan yang digelutinya. 


(Acara Mahakarya Bonek Campus)
Di masa itu Fajar juga bergabung dengan Bonek Campus. Wadah dari berbagai komunitas campus ini juga sering membuat suara acara di saat Persebaya sedang “mati suri”. Fajar pun juga aktif di saat tersebut dan ikut dalam berbagai kegiatan Bonek Campus salah satunya Mahakarya Bonek Campus.
Setelah sedikit menepi dari sepak bola karna disibukkan dengan masa awal perkuliahan, Fajar akhirnya kembali ke lapangan hijau. Tim tetangga berjuluk the Lobster ini sukses menggaet bek sayap kiri asal Surabaya. Deltras Sidoarjo resmi mengikat kontrak dengan Fajar selama satu musim berjalan. 
(Fajar Kurniawan bersama Deltras Sidoarjo)
Hingga pada akhirnya setelah setahun berlalu, Fajar mendapat panggilan dari tim asal Banjarmasin yaitu Barito Putera yang secara langsung pada saat itu di arsiteki langsung oleh Jacksen F Tiago. Namun sayang, keberuntungan belum memihak Fajar untuk berseragam Barito Putera.


Suasana trial bersama Barito Putera
Terdapat tim yang bermain di Liga 2 pada saat ini, yaitu bernama Persip Pekalongan. Tim tersebut ingin sekali memakai jasa Fajar yang berposisi sebagai bek kiri. Terjadi kesepakatan antara menejemen Persip Pekalongan dan Fajar pun mendapatkan kontrak 1 musim dengan nomor punggung 23. 


jongkok kedua dari kiri
Nomor yang identik dengan dirinya. Sampai saat ini pun Fajar masih berjuang bersama timnya di liga 2. Fans dari Kurniawan Dwi Julianto ini memang bermain di kasta yang sama dengan tim pujaaannya dari kecil yaitu Persebaya, namun beda grup.

(sumber: media Persip Pekalongan)

Sebelum kompitisi resmi bergulirpun, Fajar menyempatkan diri menyaksikan Persebaya bermain di laga tandang maupun kandang setelah dikembalikannya Bajol Ijo di habitatnya dan saat itu ia dari Pekalongan setelah mengikuti latihan bersama timnya langsung hadir dilaga PSIS vs Persebaya di Jatidiri. WOW! Loyalitas dan kecintaan Bonek menang tak bisa dibohongi. Laga terakhir yang dilakukan di Gelora Bung Tomo melawan PSIS juga tak ingin ia lewatkan begitu saja. Bermodal ijin dari pihak klubnya saat itu,ia langsung meluncur menuju Surabaya untuk menyaksikan Home Coming Game.
(saat menyaksikan PSIS vs Persebaya di stadion Jatidiri)

Harapan juga keinginannya pun tinggi untuk memakai kostum Green Force, tim yang sangat ia puja dari kecil hingga sekarang. Namun secara profesional,jelas Fajar akan berjuang habis-habisan membawa Persip Pekalongan meraih prestasi tertinggi di kancah Liga 2 sepak bola Indonesaia.

“Siap meneruskan posisi dari Abah Halil”, begitu ujarnya saat terakhir yang ia katakan kepada saya.

Semoga jika ada kesempatan memakai jersey berlambang Suro dan Boyo nanti,pasti tidak akan ia sia-siakan. Terus berlarilah #spesialiskidal23 hingga sampai saatnya kau akan datang bermain dihadapan Bonek dengan memakai jersey Persebaya dan berada di pososi Mat Halil dulu. Mungkin untuk menejemen Persebaya bisa mempertimbangkan atau memantau “Bonek” ini yang sedang bermain di Persip Pekalongan. Memilik ciri khas asli arek Suroboyo takkan membuat Fajar lama beradaptasi jika nantinya di kontrak oleh menejemen Green Force !

Rabu, 03 Mei 2017

PERSEBAYA DAN MODERNITAS KOTA

Oleh:
Ilham Febrianto
(Mahasiswa Unair)


Surabaya, dikenal sebagai kota pahlawan. Memiliki main symbol Tugu Pahlawan yang dibangun untuk memperingati perjuangan para pahlawan.
Menurut sejarah, lahirnya kota ini ditandai dengan peristiwa heroic yakni pengusiran tentara Tar-Tar oleh Raden Wijaya dan pasukannya di Hujung Galuh(sekarang Tanjung Perak) pada pada 31 Mei 1293.

Di kota ini juga, dahulu ketika sekutu mengultimatum warga kota agar meletakkan senjata dan menyerahkan diri sebagai akibat dari terbunuhnya Jenderal mereka, AWS Mallaby, saat pertempuran 30 Oktober 1945 yang tak digubris warga kota Surabaya. Mereka, tetap pada pendiriannya. Merdeka atoe Mati. Karena itu, Sekutu dengan berbagai macam Alutsistanya menggempur, membombardir hingga sudut sudut kota. Secara nalar memang tak mungkin Arek arek Suroboyo memenangkan pertarungan dengan sekutu, dan hasilnya memang tidak.

Namun yang harus diingat, arek arek Suroboyo kala itu dengan gigih, pantang menyerah, kerja keras, militan, berbekal peralatan seadanya, dan dengan segala ketidakmampuan, memilih tetap berjuang sampai titik darah penghabisan.

Dan itulah kultur asli warga kota Surabaya sesungguhnya, kultur “Arek”. Kultur yang perlahan mulai terkikis seiring pergeseran karakteristik kota Surabaya sendiri.

Kini Surabaya lebih dikenal sebagai kota bisnis, ya meski sejak dahulu sebenarnya Surabaya telah jadi pusat perdagangan mengingat letak kota yang strategis sebagai pintu perdagangan khususnya untuk Indonesia bagian timur.

Berdasarkan survei Indonesia Best Cities for Business 2016 oleh majalah ekonomi SWA, kota Surabaya menempati peringkat 1 sebagai kota terbaik untuk berbisnis. Kota dengan pertumbuhan ekonomi diatas rata rata nasional yakni 6,73 % di tahun 2014 wajar jika banyak sekali terlihat gedung gedung tinggi, baik perkantoran, hunian (hotel/apartement), ataupun mall. Surabaya kini, memang telah jadi salah satu kota metropolitan yang terus menerus berinovasi menjadi The Real Modern City.

Ini secara tidak langsung juga mempengaruhi watak dari penduduk kotanya, yang kini mengarah ke arah individualistik. Seolah seolah ada tembok pembatas yang mengharuskan setiap orang berada diruangannya masing masing, tak perlu memperhatikan atau sekedar menengok apa yang terjadi dibalik dinding temboknya. Ya, meski tak semua, bahkan mungkin minoritas, atau malah sebenarnya hanya kecemasan penulis saja.

Yang pasti, di Surabaya masih ada penerus/penjaga kultur “Arek”. Mereka yang dahulu berjuang bersama berbekal kebenaran yang mereka yakini bersama ditengah ketidakpastian seperti apa ujung perjuangannya, demi satu kebanggaan yang sama, Persebaya. 

Ya, mereka adalah Bonek. Bonek yang lewat beragam metode perjuangannya, lewat berbagai pengorbanan mulai waktu, tenaga, uang, bahkan nyawa berhasil mengembalikan kebanggaan mereka. 


Di lain sisi, Bonek sekaligus menjadi penjaga agar Surabaya ditengah kemajuannya tak jadi Kota tanpa kata. Bonek yang masih mau saling sapa satu sama lain meski tak saling kenal, masih mau berbagi minuman/makanan, mudah disaksikan jika ada sekumpulan Bonek makan 1 bungkus beramai ramai, mereka yang saling menjaga satu sama lain, saling membantu, susah senang bersama, ini tergambar saat ada salah 1 bonek yang terkena musibah dengan spontan Bonek lain akan langsung galang dana untuk membantu, saling menghormati satu sama lain tak memandang usia, bahkan terkadang yang usianya lebih tua masih menggunakan bahasa jawa halus (bahasa kromo) saat berkomunikasi dengan yang lebih muda.

Seharusnya kini Bonek sudah dapat bersama sama merayakan sepakbola kembali, mengingat Persebaya kini telah kembali berkompetisi resmi. Namun faktanya, Persebaya, yang telah menjadi sebuah klub modern, telah benar benar merepresentasikan kota Surabaya yang juga kota modern, tentu masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki.

Jawapos, salah satu media nasional, telah membeli 70% saham kepemilikan PT Persebaya Indonesia lewat PT Jawapos Sportainment. Melalui Jawapos yang terbukti sukses didunia basket lewat PT DBL, optimisme itu dibangun kembali lewat beragam inovasi. Mulai dari pengelolaan tiket yang kini bisa dibeli secara online melalui myticket dan kedepan juga akan bisa dibeli lewat salah satu minimarket. Selain itu kini juga disediakan penjualan tiket terusan (yang dapat digunakan di seluruh laga Home Persebaya). Jersey tim dengan banyak teknologi yang digunakan seperti motif kulit buaya yang tercetak timbul sejak dalam pembuatan kain. Store resmi milik Persebaya juga telah berdiri di Gedung milik Jawapos, GrahaPena. Banyak sponsor berhasil ditarik manajemen Persebaya seperti Kopi Kapal Api, Antangin, Honda MPM, Honda Surabaya Center, Ardiles, Proteam, dan Gojek. Pemain yang bertempat tinggal di Apartment. Akun sosial media resmi yang dalam sehari saja mampu menarik banyak followers, ini melihatkan pecinta sepakbola, khususnya Bonek sangat menantikan kabar terkini tentang tim kebanggaannya.

Dan, layaknya Surabaya, modernitas Persebaya juga ada dampaknya. Mulai yang paling disoroti saat ini, dimana pemain Persebaya dirasa tak mewakili ruh, mentalitas, kultur “Arek’. Mereka dianggap tak mewakili gaya permainan ngotot, ngeyel, khas Surabaya. Hal itu linier memang, karna jika dilihat berdasarkan kelahiran pemain yang menghuni squad Persebaya saat ini, hanya 7 orang kelahiran Surabaya dan sekitarnya (Data di Jawapos,19 Maret 2017). Tanpa berniat mengecilkan pemain non kelahiran Surabaya, mengingat sejatinya karakteristik permainan bisa dibentuk. Namun, pelatih kepala Persebaya sendiri saat ini, belum mampu untuk menjawab tantangan itu. Kritik pun tak dapat dihindarkan kepada Iwan Setiawan, alih alih menjawab kritikan bonek dengan kemajuan perform tim dilapangan bola, Iwan malah menjawab dengan menantang duel bonek, dan acungan jari tengah setelah match melawan Martapura. Sungguh ironi.

Lepas dari kondisi tim, modernitas juga berdampak langsung pada supporter. Pada kasus Persebaya, dengan kenaikan harga tiket, yang sebelumnya 50rb dan akhirnya terkoreksi jadi 35rb saja, masih dianggap terlalu mahal. Selain itu, jadwal pertandingan yang lebih banyak di hari aktif, guna kepentingan hak siar juga merupakan efek yang harus diterima oleh Bonek.

Buat Bonek, menonton Persebaya di stadion adalah satu hal yang tak bisa dipisahkan. Atas nama cinta, segala cara akan digunakan agar mampu membeli tiket, jika masih saja tak berhasil, biarlah layar kaca yang membalas cinta Bonek. Karna memang, kini lebih dari 50% pertandingan Persebaya disiarkan oleh TV.

Ibarat seorang anak yang mengidamkan sepatu yang karna keterbatasan dana si anak hanya bisa melihat sepatu yang diinginkannya lewat kaca etalase toko sembari membayangkan memakainya, yang tentu berbeda rasanya jika si anak memakainya langsung. Sama halnya Bonek, kaca televisi, tak akan pernah menyajikan pengalaman yang sama dengan mendukung Persebaya langsung di stadion.

Tulisan ini tak sama sekali anti modernitas ataupun anti kemajuan. Hanya menekankan perlunya adanya keseimbangan, kemajuan pada beberapa aspek tak boleh menafikkan, tak boleh mengindahkan aspek aspek lain. Karna yang terpenting bukan symbol yang terlihat tapi substansi. 

Dan yang terpenting dari sebuah kota adalah manusia yang menempatinya, sementara sarana dan prasarana yang ada hanyalah penunjang. Begitu juga dalam sepakbola, yang terpenting adalah permainan sepakbolanya, permainan di lapangan hijau, 11 pemain lawan 11 pemain, yang lainnya faktor pendukung.