Senin, 22 Agustus 2022

MENANG ATAU PAPAN BAWAH!

Persebaya Surabaya menelan kekalahan di pertandingan tandang melawan Borneo FC, mengakibatkan harus turun peringkat dan sekarang menduduki urutan ke 14.

Besok, mereka akan melakoni laga kandang melawan PSIS Semarang. Klub yang berjuluk “mahesa jenar” ini juga berisi para pemain eks dari Persebaya Surabaya.

Dukungan Bonek  tentunya juga tidak main-main, orang awam pun tau dalam 5 kali laga, klub kebanggaan arek-arek Suroboyo ini hanya mampu meraih 4 poin. Itu merupakan catatan merah bagi tim pelatih dan jajarannya.

Kami masih berharap akan kemenangan yang di dapatkan, tinggal bagaimana mereka yang berjuang di lapangan. Tanggung jawab penuh ada di pundak pelatih, pemain, dan semua yang merasa memakai logo yang ada di dada!

Semua tidak ingin besok mendapatkan hasil kekalahan, bahkan sekalipun hasil imbang. Untuk itu berjuanglah Persebaya Surabaya!

Tidak ada pilihan lain, menang atau papan bawah!


Satu Nyali Wani!!!


Selasa, 28 Juli 2020

LIGA UNTUK SIAPA?

LIGA UNTUK SIAPA?

Federasi tetap bersihkukuh untuk melanjutkan kembali Liga yang telah berhenti pada gameweek ke dua putaran pertama. Pada pertengahan oktober nanti liga akan kembali bergulir, Dengan protokol kesehatan ketat yang akan di terapkan “katanya”, inginnya sih meniru liga-liga top sepakbola di eropa sana, namun tidak kah berlebihan membandingkannya dengan sepakbola eropa. Tak apa mimpinya ketinggian tapi  mimpi yang tinggi harus diiringi dengan usaha yang berlebih, kita coba bertanya apakah federasi sudah melakukannya?. melihat federasi saat ini rasanya mimpi itu hanyalah sekedar mimpi di siang bolong belaka.

Liga akan digelar di pulau jawa untuk memangkas biaya operasional seluruh tim liga. terlepas dari segala konspirasi global, kita tahu kasus terbesar penyebaran covid-19 di indonesia adalah pulau jawa. Apakah tidak riskan jika memaksakan liga digelar di pulau jawa? Belum lagi masalah-masalah yang akan terjadi jika liga tetap digelar, mulai dari izin pertandingan hingga timbulnya cluster-cluster baru

Ada beberapa opsi yang di berikan oleh federasi jika liga akan kembali bergulir. Yang pertama Stadion hanya boleh di isi 30% dari seluruh kapasitas stadion + penonton harus membawa surat Rapid Test, sekedar informasi biaya Rapid Test sendiri Rp.150.000  itu pun yang paling murah, berapa biaya yang di keluarkan untuk satu kali pertandingan? Tentunya banyak. Opsi terakhir penonton tidak dapat masuk ke stadion, jika opsi ini dilakukan, tim memperoleh pemasukan dari mana? Ada tiga sumber pendanaan klub di Indonesia, sponsor, tiket, merchandaise dan seharusnya hak siar tapi "you know lah" hak siar di Indonesia masih dimonopoli oleh federasi. Tim hanya di beri subsidi 800 juta, gila apa? Padahal pengeluaran klub sendiri bisa lebih dari 800 juta satu musim. Salah satu direktur TVRI pernah berucap "membeli hak siar Liga Indonesia lebih mahal harganya daripada membeli hak siar Liga Inggris". kita hanya bisa menerka-nerka tanpa bisa memastikan berapa nominal hak siar Liga Indonesia seluruhnya, tentunya lebih besar daripada 800juta!. Apalagi opsi tanpa penonton, TV sebagai pemegang hak siar akan ketiban untung berlebih, rating akan melonjak pesat iklan-iklan akan banyak yang masuk haha.

Masalah jika di terapkannya opsi tanpa penonton untuk liga kali ini adalah pemusatan massa tetap akan terjadi di beberapa titik. Memang benar tidak berada di dalam stadion tapi di luar area stadion akan terdapat pengumpulan massa, siapkah aparat keamanan dengan ini?. Belum lagi yang melakukan nobar di beberapa warung atau kafe, dengan biaya yang lebih murah ini adalah opsi dibanding dengan menonton langsung ke Stadion dengan membawa surat Rapid Test yang harganya 3X lebih mahal dari harga tiket fans Persebaya. sekali lagi terlepas dari konspirasi dan tetek bengeknya, hal ini sangat mungkin terjadi jika liga benar-benar akan bergulir, walaupun ketua federasi saat ini ndan Ibul ( Iwan Bule ) telah menghimbau agar suporter tidak melakukan nobar atau datang ke Stadion, jika hanya himbauan tanpa ada tindakan nyata federasi ya sama saja dong apalagi sudah menyangkut kecintaan dan rasa rindu fans terhadap tim pujaannya, walaupun Bonek pernah melaluinya bertahun-tahun. tak tertutup kemugkinan suporter akan tetap menuju area stadion dan melakukan nobar wong pertandingan tanpa penonton saja dibudalin apa lagi hanya sekedar himbauan.

Belum lagi tidak adanya degradasi membuat persaingan kompetisi semakin hambar bagaikan sayur tanpa garam. Mana mungkin kompetisi sepakbola dijalankan tanpa adanya degradasi, justru ini yang akan membuat banyaknya match fixing terjadi. berpelik dengan maksud agar timnas mampu berbicara banyak di Piala Dunia U-21 di Indonesia adalah alasan yang terkesan dipaksakan karena bagaimapun kompetisi di usia muda berguna sebagai ajang mencari pengalaman dan merasakan atmosfer Internasional untuk kelak berguna di timnas senior.

                Seluruh penikmat sepakbola indonesia menginginkan terjadinya perubahan di tubuh federasi sedangkan ketika kita seharusnya melakukan perubahan itu kita malah terfokus dengan egoisme klub masing-masing. Kita tahu kondisi keuangan klub sedang tidak baik namun dengan tetap menggelar kompetisipun, subsidi yang di berikan oleh federasi tidak mencukupi untuk menutupi pengeluaran klub satu musim jika bicara tentang klub liga satu. Hanya lima klub liga satu yang menolak liga kembali bergulir diantaranya : Persebaya, Persipura, Barito Putera, Persik, dan Persita. Patut di nantikan konsistensi kelima klub tersebut. Hanya Persebaya yang beriringan dengan para suporternya (Bonek) dengan sepakat menolak liga kembali di gulirkan, beruntunglah Persebaya memiliki suporter yang kritis dan militan.

                 Sudah saatnya federasi fokus untuk menyiapkan musim berikutnya dengan sistem dan perangkat kompetisi yang baik untuk menggelar kompetisi musim depan daripada memaksakan untuk menggelar liga di keadaan yang serba tidak jelas ini. federasi harus menjadikan pandemi ini sebagai momentum untuk membersihkan diri dari kotoran-kotoran kepentingan para politikus maupun elite club.

                Jadi jika memang Liga akan kembali digulirkan siapa yang akan diuntungkan? Federasi? Pemain? Klub? Jajaran klub? Suporter? Atau INDOSIAR selaku pemegang hak siar liga satu?

Senin, 25 Maret 2019

Persebaya 2019 Berubah


Persebaya 2019 Berubah

            Persebaya, ketika kita mendengar nama tersebut muncul memori tentang salah satu kesebelasan sepak bola dengan sejuta prestasi. Militansi yang membara, determinasi dan semangat yang berkobar menjadi ciri khas permainanya. Didirikan di Surabaya pada tahun 1927 menjadi salah satu klub yang cukup disegani dieranya. Seperti pepatah ada gula ada semut hal ini tergambar jelas seperti Persebaya dengan suporter setianya Bonek Mania. Dibelahan manapun Persebaya berlaga disitulah Bonek berada. Persebaya sudah menjadi nafas bagi sebagian besar Bonek bahkan menyebrangi lautan rela mereka lakukan demi Persebaya. Dari era perserikatan Persebaya sudah menjadi langganan juara di Indonesia. Pemain hebat pun tercetak di Persebaya salah satunya Bejo Sugiantoro, Yusuf. E, Mat Halil, Anang Ma’ruf yang menjadi tumpuan timnas Indonesia. Hampir semua kejuaraan di Indonesia pernah dicicipi juara oleh Persebaya.
Namun di era 2000an Persebaya yang dulu disegani mulai menurun performancenya. Hal ini terjadi karena Persebaya banyak dimanfaatkan oleh oknum yang mengutamakan egoisme pribadi. Persebaya menjadi tunggakan politik, peninggian diri bahkan menjadi tempat meraup keuntungan pribadi. Selama hampir 4 tahun Persebaya menjadi ‘ladang emas’ bagi sebagian oknum. Prestasi yang semakin karut marut. Manajemen tim yang berasaskan ‘asal ada’ dan bahkan pemain yang sudah berkucur keringat dilapangan tidak digaji. Gong besar dibunyikan dengan nada ‘persebaya tidak diakui PSSI’ hal ini mebuat sebagian besar pendukung Persebaya bersedih. Mereka bingung kenapa ini terjadi dengan prestasi dan sejarah istimewa yang dimiliki Persebaya. Lambat laun Bonek mulai sadar bahwa ‘kekasih hatinya’ sedang direnggut dan dikuasai segelintir perampok berdasi. Aksi demi aksi dilakukan Bonek untuk mengembalikan harkat dan martabat Persebaya. Kacung-kacung yang mengotori Persebaya satu persatu ditendang oleh Bonek. Materi, tenaga bahkan keringat direlakan untuk Persebaya karena Bonek memiliki prinsip yang kuat akan keadilan dan kebenaran. Aksi perjuangan ini berbuah bahagia di Bandung tanggal 8 Januari 2017 Persebaya kembali diakui oleh federasi.
            Persebaya kembali bangkit dan mengelurkan taringnya kembali. Anak dari Dahlan Iskan yakni Azrul Ananda dengan tegas dan bertanggung jawab menjadi presiden klub Persebaya. Gaji-Gaji yang ditunggak secar perlahan dilunasi. Manajemen klub diperbaiki menjadi manajemen yang sehat. Pembinaan dilakukan dengan maksud menciptakan generasi emas Persebaya. Perubahan yang dilakukan Azrul Ananda berbuah emas, Persebaya berhasil menjuuarai Liga 2 pada tahun 2017. Pada tahun berikutnya Persebaya semakin berjaya, walaupun belum menjuarai Liga 1 tetapi prestasi Persebaya di tahun 2018 cukup memuaskan. Persebaya menunjukkan kembali bahwa tim asal Suarabaya ini masih ada dan selalu berjaya.
            Awal tahun 2019 permasalahan mengenai bursa transfer menjadi hal yang membuat perselisihan antara manajemen dengan suporter. Namun Persebaya berhasil menunjukkan apa yang dipikirkan Bonek mengenai bursa transfer itu salah. Persebaya mulai merekrut pemain berkulitas yang diharapkan mampu meningkatkan prestasi Persebaya. Lambat laun Bonek mulai meredakan emosi dan menerima secara ikhlas pemain rekrutan manajemen. Tahun 2019 menjadi tahun harapan bagi Persebaya. Manajemen yang mulai tertata dengan baik. Kedewasaan suporter yang semakin membaik. Step by step menuju Persebaya berjaya sudah terbentuk. Kolaborasi antar manajemen, pemerintah dan suporter menjadi kunci keberhasilan Persebaya di tahun 2019. Manajemen harus mampu membentuk dan mendewasakan tim. Pemerintah Surabaya harus mampu menjadi penyedia infrastruktur yang bertaji. Suporter harus mulai membelajarkan kedewasaaan di setiap lini. Apabila tiga pilar ini didirikan dengan kokoh dan kuat niscaya banguanan yang indah dan tahan akan goncangan akan terbangun.
‘Salam satu nyali’ menjadi slogan yang selalu disuarakan. Dengan slogan ini diharapkan tidak hanya menjadi slogan melainkan mampu diserap guna menjayakan Persebaya ditahun 2019. Kata satu dalam slogan tersebut berartu menggabungkan setiap pemikiran, ide, dan aspirasi menjadi satu keputusan. Nyali dapat diartikan sebagai keberanian yang tak tergoyahkan. Secara harfiah ‘satu nyali’ mampu menjadi satu keputusan yang berani. Berani dalam berubah, berani dalam  menunjukan fair play diluar dan didalam lapangan. Persebaya 2019 harus berani berubah dari tahun sebelumnya. Perbaikan manajemen, komunikasi yang terjalin harus lebih baik dengan suporter bahkan kerja sama dengan pemerintah Surabaya harus diintensifkan. Tak ada kata lelah untuk Persebaya dan tak ada kata berhenti untuk Persebaya. Merubah memang bukan hal yang mudah akan tetapi perubahan akan berbuah kebahagian. Bonek akan selalu mendukung langkah berubah yang dilakukan Persebaya di tahun 2019.


Ditulis oleh: Romadhon Wahyudi
Salah satu karya terbaik dalam lomba karya tulis dengan tema "Persebaya 2019" pada Bonek Fair #2.

Onward Persebaya*


Onward Persebaya*


 “Setelah bertahun-tahun lamanya sejak berkecimpung dalam dunia yang telah memberikan banyak pengalaman kepada saya, di mana saya banyak belajar tentang moralitas dan kewajiban, sungguh semua itu berkat sepak bola,” terang Albert Camus, seorang pemikir Prancis, dalam salah satu artikelnya. Memang demikianlah sepak bola. Setiap giringannya mengajarkan kelincahan menghadapi masalah. Kerap kali tendangan yang dilesakkan memberi tahu tentang peluang hidup yang senantiasa ada dan terbuka bagi mereka yang mau berusaha. Bahkan antisipasi kiper di depan gawang pun kerap kali menggambarkan kemampuan manusia saat berhadapan dengan ancaman.  Dan pada akhirnya, hanya klub dengan seabrek penempaanlah yang berhak mendapat peluang dipuja sejarah. “Football, bloody hell!” begitu kata Sir Alex Ferguson.

Dalam hal ini, sebagai pendukung Persebaya, kita semua bisa berdecak bangga, sebab Persebaya masuk dalam klasifikasi klub legendaris Indonesia. Meski demikian, di setiap lintasan waktu, tangan besi sepak bola mampu merubah klub yang semula terkenal menjadi terpuruk, seperti pasang surut yang dialami AC. Parma. Oleh karenanya, tulisan ini lahir sebagai ikhtiyar untuk memperkuat kaki-kaki Persebaya agar mampu menghadapi dinamika persepakbolaan. “Onward! No Retreat (Maju terus! Pantang Mundur).” Demikian semboyan milik Olimpiade Ganefo 1963 yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno.

Ikhtiyar

“Sifat fanatisme sepak bola memiliki keunikan karena orang yang berada di dalamnya rela membela tim kesayangan dengan pengorbanan yang tidak kecil. Baik tenaga maupun dana.” (R.N. Bayu Aji, 2018)
Adakah yang pernah membaca ulasan di Jawa Pos yang menyebut, bahwa kemenangan Persebaya atas Persib di Stadion Kapten I Wayan Dipta terjadi berkat suara dukungan Bonek dari luar stadion? Atau cerita dari Inggris tentang sosok Beckham yang mampu bangkit hingga menjadi pahlawan kemenangan Man. United pada Final Champions 98/99 di tengah bayang-bayang hinaan publik Negeri Ratu Elizabeth? Dan tentu saja kisah legendaris saat Sir Matt Busby bersama jajaran manajemen membangun kembali Man. United paska Munich Air Disaster 1958? Jika pernah, maka kita semua berada pada satu pemahaman, bahwa semua komponen memiliki kontribusi nyata bagi tim tercinta. Setelah aspek kesadaran ini terpenuhi, maka selanjutnya tinggal fokus pada pembenahan yang musti segera kita eksekusi bersama.

Pembenahan ini diartikan sebagai langkah strategis yang harus ditempuh oleh semua komponen klub demi mewujudkan ‘progresivitas’ Persebaya. Belajar dari seorang pemikir hukum ternama, Prof. Satjipto Rahardjo (2007), progresif merupakan langkah untuk mengkritisi realitas yang positivistik; realitas yang berjalan “begitu-begitu” saja, tanpa perubahan ke arah perbaikan. Jika paradigma ini kita adopsi ke dalam klub, maka bisa dibaca sebagai langkah yang akan dilakukan untuk menyiapkan, mengawasi dan mengevaluasi internal Persebaya, baik suporter, pemain, pelatih, maupun manajemen. Oleh karena itu, menurut paradigma ini, perbaikan tidaklah hanya memperbaiki fasilitas stadion, kualitas rumput dan kostum kesebelasan, melainkan juga pemberesan gangguan (disrupsi) yang berlaga di luar lapangan, baik vertikal maupun horizontal, seperti perbaikan pengorganisasian suporter, perbaikan komunikasi kultural antar komponen, dan lain-lain.

Setelah atmosfer di dalam kondusif, maka langkah selanjutnya adalah menampilkan hasil keringat itu kepada dunia luar: gelanggang pertandingan. Keindahan gocekan, akurasi umpan, power tendangan dan solidaritas para pemain saling berpadu untuk membuat publik berkata, “Persebaya telah bangkit kembali,” persis seperti pujian yang dikatakan Corriere delo Sport kepada Maradona pada Piala Dunia 1990. Bahkan tidaklah mustahil apabila pemantapan permainan ini sudah berhasil, yang disempurnakan dengan apresiasi dari publik luas, Persebaya bisa dengan mudah mendapat predikat sebagai kiblat sepak bola Indonesia. Itulah yang penulis dan Anda semua cita-citakan, bukan?


Ditulis oleh: Ferhadz A.M (Bonek Writer Forum)
Salah satu karya terbaik dalam lomba karya tulis dengan tema "Persebaya 2019" pada Bonek Fair #2.

Jumat, 15 Maret 2019

Agenda Tahunan Dari Bonek Campus Yang Mengulas Tentang Persebaya


 oleh: Redaksi Bonek Campus

Mahakarya Bonek Campus, sebuah agenda tahunan dari rekan-rekan Bonek Campus yang selalu menekankan konsep pameran literasi tentang Persebaya dan Bonek. Tak terasa pada tahun 2019 ini sudah memasuki edisi yang ketiga. Acara ini bertujuan untuk selalu mengingat perjalanan Persebaya dari tahun ke tahun. Tahun ini sudah memasuki edisi yang ketiga.
Pamflet Mahakarya Bonek Campus edisi ketiga

Pada edisi pertama yang diselanggarakan pada 22 Mei 2016, Mahakarya Bonek Campus mengangkat tema “History of Persebaya”. Tema ini diambil untuk tetap menjaga semangat sepak bola di Surabaya karena pada saat itu Persebaya sedang mati suri. Edisi ini berisi literasi sejarah Persebaya dari dekade 70-an, 80-an, 90-an, sampai dengan tahun 2010 di mana awal mula dualisme Persebaya bermula. Acara yang dilaksanakan di Coffee Toffee Jatim Expo diawali dengan bedah buku “Sepak Bola 2.0” dengan pembicara Hasbi (Fandom.id), Fajar junaedi dan Chusnudin a.k.a Cak Kaji. Ada juga talkshow dengan pembicara para legenda Persebaya, di antaranya: Yongki Kastanya, Freddy Muli, Subodro dan Madrai. Ada juga dari perwakilan dari teman-teman Pemerhati Sejarah Persebaya yang diwakili oleh Cak Gerson. Banyak kisah-kisah yang dituturkan oleh narasumber bagaimana kedikdayaan Persebaya di masa lampau, walau pada tahun itu Persebaya tidak diakui oleh federasi negeri ini. Apalagi beberapa hari sebelum edisi pertama ini bertepatan dengan hari Kebangkitan Nasional. Jadi, besar juga harapan saat itu agar Persebaya lekas bangkit.


Pamflet Bonek Campus edisi pertama

Edisi kedua dilaksanakan pada 7 Januari 2018 yang juga bertempat di Coffee Toffee Jatim Expo. Edisi ini untuk memperingati satu tahun Persebaya kembali diakui setelah sekian lama haknya dikebiri oleh federasi. Juga untuk mengenang sahabat kita semua yang telah banyak membantu perjalanan kami, yaitu alm. Cak Oka Gundul. Tema yang diangkat pada edisi kedua ini, yaitu “Tribute for Legend”. Tema ini bermaksud untuk mengajak kawan-kawan Bonek untuk menghargai sejarah besar Persebaya agar kesebelasan yang kita cintai ini tidak dipermainkan oleh federasi seperti beberapa tahun silam. Pengisi acara edisi ini ada dari para legenda Persebaya, di antaranya: Yomgki Kastanya dan Muharram. Dari perwakilan suporter diwakili oleh Pak Zul dan Pak Eko yang ikut tret-tet-tet tahun 1988. Ada juga bedah buku “Sepak Bola Gajah” dengan penulisnya langsung, Slamet Oerip a.k.a Suhu. Edisi ke dua ini berfokus pada perjalanan Persebaya pada dekade 80-an. karena dekade 80-an banyak momen-momen penting seperti awal mula tret-tet-tet, sepak bola gajah, kampiun 88, munculnya logo ndas mangap dan julukan Bonek bagi suporter Persebaya. Pesan juga disampaikan pada manajemen Persebaya saat ini agar tetap menjaga nama besar Persebaya dan karakter determinasinya atau yang biasa kita sebut “ngeyel”.


Pamflet Mahakarya Bonek Campus kedua

Lalu yang di edisi ketiga ini, pada tanggal 16 Maret 2019 bertempat di jalan Jemursari nomor 70 Surabaya, yaitu Bober Cafe dengan tema “Persebaya Kita”. Mengambil tema tersebut dengan maksut ingin mengulas perjalanan Persebaya di kompetisi Liga 1. Tidak jauh dari edisi yang pertama dan kedua, masih terdapat talkshow lalu dokumentasi foto, kliping, artikel berita, serta koleksi jersey dan tiket selama kompetisi Liga 1 tahun 2018. Turut menghadirkan juga para pelaku yang terkait yaitu manajemen tim, pemain dan juga dari sisi wartawan, hingga perwakilan tiap tribun. Selain itu bakal ada ulasan tentang jersey bersama Surabaya Jersey Community. Ada juga turut memeriahkan acara yang akan hadir yaitu Stand For Pride. Acara ini GRATIS buat siapapun bagi teman-teman yang ingin hadir di acara tersebut.
Bonek Campus tak pernah berhenti sampai sini, kami akan tetap loyal, mencintai Persebaya dengan kemampuan kami. Sejarah adalah awal perjalanan dari sebuah langkah panjang yang akan terus berjalan, kami tak ingin sekedar mencintai Persebaya dari sudut tribun manapun. Tetapi kami mencintai Persebaya dengan cara kami, di luar stadionpun persebaya bukan sekedar sepak bola tetapi harga diri dan kebanggaan yang akan kami bawa kemanapun kaki ini melangkah. Ijinkan kami menjaga, melestarikan sejarah dengan kemampuan kami dalam berkarya tanpa batas, dari kami untuk Persebaya, dari kami untuk sesama rekan bonek, Dan umum. Serta dan dari kami untuk setiap perjuangan, pilihan, dan suara yang akan tetap Lantang dan tak pernah hilang. Betul apa kata Wiji Tukul, “kebenaran takkan mati, aku akan tetap ada dan berlupat ganda.” Kami hanyalah beberapa dari keseluruhan rekan bonek yang tetap dan akan selalu berusaha menjadi suporter yang lebih baik, tanpa paksaan, tanpa settingan dan tanpa pamrih. Ini untukmu, kebanggaan kami.
Seperti kata pepatah Yunani juga: “historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan." Mari bersama-sama menjaga ingatan tentang perjalanan panjang Persebaya. Kita adalah orang-orang yang akan merawat dan menjadi bagian dari sejarah klub dan kota ini. Semoga dengan agenda tahunan dari Mahakarya Bonek Campus ini akan menjadi pengingat Persebaya di jaman dulu hingga detik ini. SALAM SATU NYALI WANI !!!

Rabu, 02 Mei 2018

Bonek dan Makna Hardiknas

Oleh : Farbon (BONEK UNESA)

Selamat Hari pendidikan untuk semua insan yang selalu belajar disetiap kehidupanya.

Hari pendidikan sendiri dapat diartikan sebagai hari jati diri bangsa dimana  pendidikan merupakan modal awal dari perkembangan bangsa indonesia.

Tak terkecuali apa yang dialami oleh supporter persebaya, BONEK MANIA. Mereka mengalami beberapa momen yang kelam pada beberapa waktu silam.

Bonek seringkali dicap sebagai supporter rusuh dan anarkis oleh masyarakat, bahkan lebih parahnya lagi media selalu saja menjadikan bonek sebagai ajang mencari keuntungan dalam beritanya.

Membuat  masalah yang menimpa bonek semakin besar dan seakaan akan bonek memang rusuh dengan dijadikanya headlinews di media massanya. Ini merupakan masalah yang tidak mudah menjadi bonek, karena selalu dikambing hitamkan semua pihak padahal belum tentu muara dari masalah itu sendiri dari bonek.

Dekade silih berganti bonek semakin dewasa dalam menyikapi situasi yang sulit seperti ini.

Mereka lebih memilih menjadikanya tantangan demi memperbaiki diri sendiri. Menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik untuk mengarungi masa depan yang lebih baik lagi.

Di sisi lain bonek juga melawan berita yang menyerang, dengan berbagai aksi sosial maupun aksi kreativitas di tribun dalam mengawal kebanggaan persebaya surabaya.

Berbagai aksi pernah dilakukan seperti bakti sosial ke panti asuhan, mengadakan acara penggalangan untuk korban bencana maupun untuk aksi solidaritas sesama bonek yang terkena musibah ini dilakukan atas nama manusia karena seburuk buruknya bonek.

Mereka tetaplah manusia yang ingin lebih baik dan terus ingin memperbaiki diri. Tak luput juga berbagai aksi kreativitas yang ditampilkan saat mendukung persebaya mulai dari aksi koreografi kertas hingga koreo 3 dimensi yang menarik.

Dan lebih hebatnya lagi bonek mulai berbenah dalam segi chants yang di gelorakan mereka tak lagi menggunakan chants yang berbau rasisme terhadap pihak lain meskipun itu memang sulit dilakukan bagi supporter yang dikenal militan ini.

Lantas itu tak membuat bonek patah semangat, terbukti dari pertandingan akhir akhir ini tak terdengar lagi chants yang bersuara sumbang berbau rasis di stadion.

Mereka lebih menyuarakan chants yang bisa membakar semangat pemain dilapangan, karena sejatinya supporter adalah pemain ke 12 yang sudah sepatutnya mendukung tim kebanggan dengan kreativitas yang unik.

Sudah saatnya bonek kembali pada jiwa dan ruhnya, dengan tidak lagi mebuat onar karena nekad bukanlah sesuatu yang buruk banyak sekali orang dengan bermodalkan nekad telah sukses dalam hidupnya. Tanpa harus membuat rusuh, sebenarnya masyarakat sudah segan, karena bonek juga mengajarkan tentang tujuan yang harus dicapai meskipun itu sulit dan terjal.

Kefanatikan bonek memanglah luar biasa jika dibarengi dengan sikap yang dewasa dan mau belajar dari masa lalu, tak ayal bonek akan menjadi supporter fanatik yang berkode etik. Mengedepankan jiwa yang berbudi pekerti dan mengesampingkan sifat anarkisme.

Seperti halnya manusia biasa, bonek telah jatuh cinta. Kecintaan tersebut bukan pada seseorang melainkan pada sebuah tim kebanggaan persebaya surabaya.

Romantika bersama persebaya juga telah menimbulkan banyak tangis, tawa, kehilangan dan kesetiaan. Bonek sudah menjadi panggung kehidupan dan juga sudah menjadi sebuah proses pendidikan dalam diri.

Dengan ketidak sempurnaan dan kesederhaaan inilah way of life yang bisa membuat jutaan orang mengidentifikasikan dirinya sebagai bonek.

Rabu, 17 Januari 2018

Tentang "History, Victory 80's, Tribute to Legend"

Berkarya diluar tribun untuk PERSEBAYA ? Ya, itu adalah salah satu visi dan misi dari kami, Bonek Campus. Sebuah nama kelompok yang menurut kami sangat berat, karena mengusung nama campus. Dimana makna itu identik dengan mahasiswa/i yang dinilai kritis dan selalu berada pada garda depan dalam hal berkarya.

Mengulas kembali sebuah karya dari Bonek Campus untuk PERSEBAYA, kami wujudkan dalam sebuah karya Mahakarya Bonek Campus. Memang belum seberapa mendalam mengulas sejarah besar PERSEBAYA. Namun kami berusaha menitik beratkan pada beberapa point sejarah PERSEBAYA, khususnya kejuaraan dan pertandingan PERSEBAYA melawan tim – tim Eropa.

Namun pembahasan soal sejarah juga akan kurang lengkap jika tidak menghadirkan pelaku sejarah, oleh karena itu kita hadirkan beberapa mantan pemain, pelatih, dan official PERSEBAYA.
Mahakarya Bonek Campus II, sebuah acara dari Bonek Campus untuk mewujudkan salah satu visi dan misi dari Bonek Campus sendiri, berkontribusi nyata untuk PERSEBAYA. Tidak berbeda jauh dengan konsep Mahakarya Bonek Campus I (22/05/2016).

Dalam  Mahakarya Bonek Campus II ini Bonek Campus mengusung tema “History, Victory 80’s, tribute to legend”. Tema ini sengaja kami pilih untuk mengenang kembali masa kejuaraan PERSEBAYA di tahun 1987 – 1988. Selain itu juga untuk menambah euforia atas juaranya PERSEBAYA di Liga 2 Indonesia 2017. Dengan harapan untuk memompa semangat tim kebanggaan kami, PERSEBAYA menyongsong Liga 1 Indonesia 2018. Dan juga menumbuhkan rasa bangga dan cinta dari BONEK dan BONITA untuk senantiasa mendukung PERSEBAYA.

Tahun 1980an tentunya tidak hanya berbicara soal kejuaraan PERSEBAYA, namun banyak cerita diluar lapangan yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah PERSEBAYA  dan pendukungnya, BONEK. “Sepakbola gajah” salah satunya, sebuah pertandingan sepakbola yang sangat kontroversi pada saat itu. Karena memiliki dua sisi baik dan buruk dalam perjalanan sejarah PERSEBAYA. Namun, suramnya sebuah perjalanan sejarah PERSEBAYA tetap tidak bisa kita hindarkan. Hal itu justru menginspirasi kami untuk mengulas lebih dalam soal “sepakbola gajah” yang pernah dialami PERSEBAYA. Beruntung sebuah sejarah yang bisa dibilang suram itu telah diabadikan dalam sebuah karya tulis buku Sepakbola Gajah Paling Spektakuler, sebuah buku karya Slamet Oerip prihadi dan Abdul Muis.

Kami menjadikan Mahakrya Bonek Campus II ini sebagai tempat mengulas lebih dalam lagi pada segmen bedah buku “sepakbola gajah paling spektakuler”. Beruntung bapak slamet oerip atau lebih sering dipanggil “suhu”  yang juga wartawan senior Jawa Pos bersedia kami undang untuk menjadi narasumber dalam segmen bedah buku tersebut. Sebuah kebanggan bagi kami tentunya bisa menghadirkan salah satu penulis yang bisa dibilang nekat mengulas lebih dalam soal sejarah kontroversi PERSEBAYA tersebut.

Kompetisi Perserikatan 1987 – 1988, sebuah kompetisi yang tentunya akan selalu dikenang oleh pendukung PERSEBAYA. Dimana pada kompetisi tersebut PERSEBAYA berhasil menjadi juara, setalah mengalahkan Persija 3-2 di stadion utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Selain moment kejuaraan PERSEBAYA, juga ada sebuah moment yang sangat akan dikenang oleh kelompok pendukung PERSEBAYA.

Dimana pada saat itu mulai muncul istilah yang sangat melekat untuk supporter yang selalu setia mendukung PERSEBAYA, yaitu BONEK (Bondo dan NEKat). Yang mungkin untuk saat ini masih banyak masyarakat yang salah mengartikan makna sesungguhnya. Sebuah sebutan yang muncul saat ribuan supporter fanatik PERSEBAYA tersebut berbondong – bondong menuju Jakarta untuk memberikan dukungan langsung kepada tim kebanggaannya, PERSEBAYA.

Sebuah moment yang akan selalu dikenang oleh pendukung PERSEBAYA sampai saat ini, mereka mengabadikan dengan sebutan “tret... tet... tet...”. Sampai saat ini BONEK menyebut “tret... tet... tet...” sebagai sebuah momen mendukung PERSEBAYA ketika bertandang melakoni pertandingan.

Sebuah tradisi yang sangat maksimal untuk mendukung PERSEBAYA, salut! Tentunya momen tersebut ingin kami ulas lebih dalam dalam Mahakarya Bonek Campus II ini, dengan menghadirkan langsung pelaku sejarah. Seperti para mantan pemain PERSEBAYA tahun 1987 – 1988 dan supporter yang ikut mendukung langsung PERSEBAYA ditahun 1987 – 1988 (tret... tet... tet...).

Beruntung para pelaku sejarah tersebut bersedia menjadi narasumber kami, seperti Pak Muharram, Pak Yongky Kastanya (Pemain Persebaya 1987 – 1988), Pak Eko, Pak Zul (Peserta tret... tet... tet... 1987 – 1988). Kami sangat memanfaatkan baik kesediaan para narasumber kami dengan mengulas lebih dalam momen – momen kejuaraan dan momen mendukung PERSEBAYA tersebut.

Kami juga meberikan kesempatan untuk pengunjung acara Mahakarya Bonek Campus II bertanya kepada narasumber kami, baik saat bedah buku, dan juga talk show dengan para mantan pemain dan pelaku sejarah tret... tet... tet...

Foto bersejarah, artikel koran, dan piala kejuaraan  PERSEBAYA ditahun 1980an tidak luput kami jadikan bahan dalam Mahakarya Bonek Campus II. Untuk menjaga kesan klasik dalam acara tersebut kami menempelkan langsung artikel koran tentang PERSEBAYA ditahun 1980an, dan mencetak ulang foto – foto bersejarah PERSEBAYA ditahun 1980an.

Beruntung PERSEBAYA memilikki supporter yang tergabung dalam kelompok Pemerhati Sejarah Persebaya. Sebuah komunitas yang berkonsentrasi pada sejarah PERSEBAYA, yang sudah mengabadikan beberapa puing peninggalan sejarah PERSEBAYA baik dalam bentuk artikel atau barang.

Oleh karena itu kami mengajak Pemerhati Sejarah Persebaya untuk berkontribusi dalam acara Mahakarya Bonek Campus II dengan mengisi talk show dan juga turut menampilkan koleksi barang bersejarah PERSEBAYA.

Sebuah kerjasama yang sangat membanggakan bagi kami, dimana kami bisa turut mengajak sebuah komunitas Pemerhati Sejarah PERSEBAYA ikut andil dalam Mahakarya Bonek Campus II. Selain itu tidak lupa kami mengajak pengelola Mess Karanggayam untuk berkerjasama dalam Mahakarya Bonek Campus II dengan memberikan izin kepada Bonek Campus untuk membawa langsung piala – piala kejuaraan PERSEBAYA ditahun 1980an untuk kami tampilkan dalam Mahakarya Bonek Campus II dengan tujuan untuk menambah kesan juara PERSEBAYA ditahun 1980an.

Sebuah edukasi tentang sejarah PERSEBAYA akan selalu kami tonjolkan dalam karya kami, Bonek Campus. Dengan tujuan menambah pengetahuan tentang nama besar PERSEBAYA dan menumbuhkan rasa cinta dan bangga kepada tim kebanggaan kami, PERSEBAYA. Khususnya untuk kami, Bonek Campus, kami berharap akan ada sebuah karya lainnya untuk mengedukasi dan mengenang nama besar PERSEBAYA yang bisa kami laksanakan dan kami sajikan untuk wujud kontribusi nyata kami, Bonek Campus, kepada tim kebanggan kami, PERSEBAYA. Tentunya kami juga terbuka kepada komunitas – komunitas lain untuk berkerjasama dalam mendukung PERSEBAYA diluar pagar tribun dan diluar pertandingan PERSEBAYA. Akhir kata, SALAM SATOE NYALI !!! WANI !!

Sabtu, 06 Januari 2018

Menjelang Mahakarya Jilid 2

Oleh : Nindi Widiara

Kalian bisa menghitung berapa banyak orang-orang yang mencintai dan mendukung adanya kalian?

Kami tidak bisa memastikan ada berapa banyak. Yang pasti setiap kami membuat suatu hal baru,banyak yang mengapresiasi.

Lalu, apa kalian bisa menghitung berapa banyak yang tidak menyukai atau antipati dengan keberadaan kalian?

Kalau itu mungkin sedikit, hanya yang terlihat banyak adalah mereka yang tidak menyukai kami berusaha mencari kelemahan kami agar mereka mempunyai alasan kenapa kami patut dibenci.

Seolah-olah sedang mengajak berbicara lawan bicara dihadapan saya, hanya saja yang saya ajak bicara adalah diri saya sendiri. Saya tau apa yang menjadi jawaban atas pertanyaan yang tidak penting itu.

Malam ini, untuk beberapa waktu yang lama akhirnya gudang kecil di rumah saya menjadi rumah singgah teman-teman Bonek Campus untuk persiapan karya yang akan mereka laksanakan dalam bentuk pameran. Alhamdulillah karya tersebut mampu dilaksanakan rutin untuk yang kedua kalinya. Bukan perkara mudah untuk menata, mengkoordinir, bahkan menjalankan setiap langkah untuk menjadi karya yang menarik, saya rasa itu yang terlihat saat teman-teman panitia berkumpul, berdiskusi, sesekali beradu argumen karena berbeda cara pandang tetapi itulah momen yang sebenarnya saya rindukan. Ya, satu tahun yang lalu saya juga menjadi bagian dari kepanitiaan pameran tersebut.

Di tengah persiapan keriuhan panitia untuk Mahakarya History Victory Persebaya era 1980an ini, di luar sana masih banyak yang gagal paham, dan membiarkan kegagalan pahaman itu dengan terus-menerus menanyakan apa fungsi dan peran kami diantara banyaknya dulur-dulur Bonek untuk Persebaya?

Ijinkan saya menuangkan dalam bentuk tulisan ini, agar kalian yang masih gagal paham merelakan beberapa menitmu untuk membaca tulisan yang mungkin banyak begejekannya. Kami sama seperti kalian yang mendukung Persebaya dengan penuh rasa bangga, sedih  ketika kalah, marah ketika di dzalimi, atau bahagia ketika waktu, tenaga, dan materi mampu dibuktikan dengan kejayaan Persebaya yang kembali seperti dulu. Kita sama, sama-sama mau menjadi bagian dari Persebaya yang sering disebut sebagai pemain keduabelas, sama-sama ingin mendukung Persebaya dimanapun ia berada, sama-sama ingin menuangkan dukungan dengan bebagai bentuk unik ke Persebaya. Dan saya rasa itulah kami ada dan terbentuk.

Ada poin yang rasanya orang awam akan menganggap berat tetapi bagi kami, lebih berat juga hehe. Berat karena bagaimana caranya bentuk kontribusi itu mampu dipahami oleh kami yang mungkin masih awam dalam hal karya. Karena dulu, kami ini menjadi Bonek yang mendukung Persebaya dengan hadir langsung di stadion, mbonek ben Persebaya gak ijenan. Nyatanya jaman semakin maju, dan pola pikir kami pun juga lama-lama harus beradaptasi dengan kemajuan tersebut, termasuk maju dalam hal kontribusi. Ini kami ya, perlu di garis bawahi “kami perlu maju”, mendukung Persebaya di stadion adalah wajib bagi semua yang mencintai, mengagumi, menggilai, bahkan menganggap Persebaya harga mati bagi dirinya. Tetapi jika mampu menuangkan bentuk kecintaan, dukungan, kegilaan akan Persebaya dengan hal lain tentunya yang positif, maka sah-sah saja dan akan memberi warna baru di dunia suporter yang kental dengan kengeyelan, kesetiaan, dan perjuangannya.

Kami ingin berkontribusi nyata untuk Persebaya, bukan sekedar dibelakang pagar tribun, apalagi dibelakang bayang-bayang doi yang sulit digapai unch unch, tetapi kami ingin  membuat yang lebih.

Sejarah tetap sejarah, sejarah seyogyanya dijaga, dilestarikan, tetapi kesini-sininya, kami belajar dari sejarah untuk membuatnya terlihat menarik, keren, dan mengikuti jaman. Ya salah satunya dengan berkarya dalam bentuk pameran. Kami bukan individu yang punya background Event Organizer, menghandle ini itu saja kadang menit-menit akhir baru teringat. Tetapi kami ingin mengemas sejarah menjadi bentuk karya seni yang mampu menarik minat masyarakat umum untuk mau datang, menikmati tiap lorong atau ruang berisikan karya-karya berupa artikel, video, foto, lalu mereka yang awam pun mampu mengubah mindsetnya bahwa “oh Bonek iku ternyata kreatif yo, asik yo, punya hal dan kegeiatan positif” lalu mereka yang awam mulai jatuh cinta dengan Persebaya dan bangga menjadi Bonek, serta sesama dulur Bonek yang datang juga kami ingin berbagi kebahagiaan, berdiskusi, dan stay begejekan untuk menjaga tali silaturahmi.
Tetapi niatan dan usaha yang kami anggap positif dan baik pun terkadang masih dianggap akan menjadi hal yang sia-sia atau bahkan gak penting untuk sebagian orang. Tetapi percayalah, ketika sejarah hanya menjadi peringatan satu tahun sekali, menjadi hal yang membosankan dan hanya menjadi hiasan sesaat, maka kalian tidak akan berkembang. Tetapi jika kalian mau menjadikan sejarah tersebut bagian dari diri kalian, yang terus-menerus ingin diperbaiki dan menuangkan dengan cara yang unik, asik, dan berbeda maka sejarah tersebut bukan lagi sekedar kita jaga, lestarikan, tetapi sudah menjadi pelajaran hidup bagi kita, pelajaran mengenai kesetiaan, perjuangan, komitmen, dan idealis yang terus kita pupuk demi generasi kita selanjutnya yang akan lahir.

Rabu, 29 November 2017

Buat Cak Jhonerly Simanjuntak

"Cak, PERSEBAYA ne awakdewe wes munggah Liga 1 taun ngarep & mene pertandingan final!"

Beliau tidak pernah memamerkan, mengagungkan, bahkan mengharapkan ditakuti orang lain dengan nama kebesarannya.

Beliau bahkan tidak jarang membiasakan berbahasa halus dengan orang-orang disekitarnya yang bahkan lebih muda darinya.

Beliau tidak pernah mengharapkan caranya untuk berjuang mendampingi PERSEBAYA berbalas dengan gila kehormatan akan posisinya yang menjadi penggerak massa Bonek selama ini.

Beliau yang tak lagi muda, tetap berapi-api tatkala sang kebanggaan dizhalimi, atau yang ringan hati untuk membantu sesama dulur Bonek yang terkena musibah.

Bersama Bonek Campus, beliau salah satu tetuah yang tidaK jarang bersinggungan dengan cara pandang, ide, dan pilihan kami yang berbeda dan berlawanan. Tetapi jauh dari perbedaan tersebut, beliau mengajarkan kami bahwa untuk menjadi suporter yang sesungguhnya haruslah tetap loyal, kritis dan tidak pernah mundur apapun yang terjadi esok hari.

Dan sekarang, untuk beberapa waktu kami harus bersabar menunggu beliau hadir kembali diantara ratusan, ribuan bahkan jutaan Bonek yang selalu mendampingi Persebaya kemanapun berada.

Teruntuk cak Jhoner, Persebaya sing mbien awakdewe perjuangno bareng, Persebaya sing awakdewe belo bareng, mene wes main pertandingan final lho cak dan taun ngarep wes pasti main nang Liga 1 :")

Doa dan harapan kami semoga sampean tetap sehat, dan militan walaupun tak lagi dalam satu tempat yang sama.

Kami bersamamu cak ner! :(

by: Redaksi Bonek Campus
foto: instagram @BonekCampus

Senin, 27 November 2017

Surat Buat Walikota

Buat, Ibu Walikota...

Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri, sebagai seorang Bonek, dan juga berKTP Surabaya. Kota yang panjenangan pimpin.

Ditengah kesibukan ibu sebagai walikota, dalam tugas-tugas kepemerintahan, dan masih harus ngurusi hal-hal teknis seperti terlibat langsung pengaturan lalu lintas / seperti yang lagi viral mengatur operasi "pengusiran" banjir. Memang sepakat jika ibu dijuluki "iron lady"

Dan karna didepan, saya memperkenalkan diri sebagai bonek, yang tentunya supporter Persebaya. Ijinkan saya mewakili dulur-dulur Bonek mengabarkan kepada ibu, jika Persebaya masuk final buk;) Persebaya telah lolos, dan kembali ke kasta tertinggi liga.

Persebaya Kita. Persebaya yang bukan hanya membawa nama Surabaya, tapi lebih jauh, Persebaya adalah satu dari sekian banyak warisan / aset berharga kota yang harus dijaga.

Ibu yang seperti kita tau, pernah mendeklarasikan diri sebagai "ibunya Bonek" dan sayangnya peran itu belum dapat ibu mainkan dengan baik:)

Saya, tak hendak menyalahkan ibu. Mungkin ibu punya banyak sekali alasan kenapa anggapan itu bisa muncul. Ntah kesibukan ibu, ntah takut UU SKN no 3 th 2005 atau sebenarnya ibu memilih menjadi seorang ibu yang lebih suka mendoakan dalam diam, sembari memberi kebebasan anak-anaknya? atau malah sebenarnya alasannya sederhana, karna ibu tak suka & paham sepakbola?

Seorang ibu, menurut saya memang tak harus menyukai apa yang disukai anak-anaknya. Tapi seorang ibu setidaknya mau mencari tau kenapa yang dianggap hanya tim sepakbola saja, sampai bisa membuat sang anak rela mengorbankan semua untuknya.

Ibu seharusnya juga berterimakasih, karena Persebaya, kami semua masih mau srawung, srawung yang sesungguhnya, lahir dari dalam hati, bukan dibuat-buat oleh birokrasi.

Kami yang tanpa perlu dikomandoi akan rela saling berbagi makanan,
Kami ditengah individualitas efek kemajuan kota,  masih menjaga kultur saling sapa meski tak saling kenal, tak peduli kasta, tak peduli golongan.

Maafkan, kami yang memang belum bisa jadi anak baik, tapi satu hal bu, kami sudah & akan terus menuju kearah sana. Dan itu karna kecintaan kami pada Persebaya itu sendiri!

Kecintaan kami yang menumbuhkan kesadaran kolektif untuk jadi lebih baik, menjaga sikap, baik saat di Surabaya sendiri, lebih-lebih di kota orang. Kami tak mau, menyulitkan Persebaya karna ulah kami.

Meski tak dapat dipungkiri, masih ada segelintir dari kami yang belum memiliki kesadaran tersebut. Semua butuh proses.

Besok adalah laga terakhir Persebaya di Liga 2. Temen-temen Bonek juga secara mandiri melalui transportasi apapun, sudah & sedang perjalanan ke kota Bandung untuk mendukung Persebaya di laga Final! Laga yang tentunya jadi pusat perhatian kancah sepakbola Indonesia.
Doakan, Persebaya kita menang ya bu!

Karna sejatinya perhatian seorang ibu itu luas, tak terhingga bentuknya. Jangan dipersempit hanya soal materil, uang, atau fasilitas.

Bisa lewat doa, bisa lewat hal-hal sesederhana mengucapkan
"ati-ati dijalan ya nak"
"tak dungakno selamet, mugo-mugo juara"
atau ucapan "selamat ya le atas ...."

Terakhir, karna ibu sering bilang takut dihukum, karna udah ada aturan larangan kepala daerah mencampuri urusan olahraga profesional.

Saran saja, mungkin ibu hanya perlu membedakan antara Manajemen Tim sebagai pengelola dengan Persebaya sebagai asset kota, sebagai salah satu kebanggan kota yang harus kita jaga bersama:)

sumber: Redaksi Bonek Campus

Jumat, 22 September 2017

Profil Bonek Campus STIESIA

Oleh : Bonek STIESIA 

BONEK STIESIA atau lebih mudahnya dipanggil BS (red: singkatan dari BONEK STIESIA) sebetulnya telah lahir atau terbentuk saat periode tahun 2010 oleh angkatan lama. Namun dikarenakan pada saat itu, struktur dan anggota belum jelas, maka pada tahun 2011 harus putus di tengah jalan. Selang beberapa tahun kemudian yakni di tahun 2016 ada 8 mahasiswa, 1 mahasiswi dari stiesia memiliki keinginan yang sama untuk kembali membangun BONEK STIESIA. 

Pada tanggal 17 Desember 2016, pembentukan pun terjadi dengan sangat sederhana, berawal dari secangkir kopi, di sebuah warkop belakang kampus. Kami berembuk bersama, dan akhirnya sepakat untuk membangun Bonek Stiesia kembali. Kami 8 mahasiswa (kebetulan 1 mahasiswi tidak bisa hadir) sangat antusias untuk membicarakan apa yang kita ingkinkan bersama diselingi canda tawa yang hangat.

First Meet 
Pertemuan ini yang bisa dibilang tombak awal Bonek Stiesia, kemudian disepakati bersama sebagai awal terbentuknya Bonek Stiesia yakni tanggal 17 Desember 2017 dan menyepakati nama awal kami yaitu “CEMARA TIFOSI” (nama awal BONEK STIESIA sebelum berubah). Kami juga sepakat, akan segera melakukan perekrutan anggota baru. Yang nantinya, setiap anggota baru harus mengikuti kopdar 1x baru bisa  resmi menjadi anggota. 

Alasan kami saat membentuk BONEK STIESIA adalah untuk memberi wadah sesama pecinta PERSEBAYA yang tergabung dalam mahasiswa/I kampus Stiesia, yang kedua tentunya mencoba merubah image bonek dengan hal-hal sederhana yang bernilai positif, karena saat itu image bonek dimata masyarakat sedikit tidak baik. 
Kopdar Awal 

Pada awal tahun tepatnya 27 januari 2017, dengan kekuatan social media, kopdar awal kami dihadiri oleh 17  anggota saat itu. Dan seiring berjalannya waktu dengan bertambahnya anggota kami, ada usulan dari anggota dan juga pihak luar yang bisa dibilang orang2 yang dihormati atau dituakan oleh para bonek untuk merubah nama "Cemara Tifosi" 

Akhirnya setelah melalui diskusi yang sangat panjang dan penuh pertimbangan. Kami sepakat secara resmi mengganti nama serta logo dengan segala konsekuensinya, dari yang awalnya CEMARA TIFOSI berevolusi menjadi BONEK STIESIA.

Perubahan Logo
Seiring berjalannya waktu anggota kami terus bertambah dan hinggga sekarang mencapai 32 anggota resmi (per 25 agustus 2017). Bonek Stiesia hingga saat ini memiliki dua official account social media antara lain instagram : Bonek Stiesia twitter : @bonekstiesia

Respon warga kampus terhadap terbentuknya BONEK STIESIA sampai saat ini terbilang positif. Bahkan baru baru ini panitia ospek 2017 kampus Stiesia meminta tolong kepada Bonek Stiesia untuk membuat choreography saat ospek dijalankan. 

Kami sampai saat ini juga menjalin silaturahmi dengan baik bersama UKM dan warga kampus. Kami ingin menghilangkan pandangan negatif yang ada kepada Bonek dimulai dari dalam kampus. Kami akan terus menerus memberi penjelasaan perlahan-lahan, dengan disertai tindakan tindakan positif tentunya, untuk menunjukkan jika Bonek kini telah berubah. 

Pembuatan Koreo untuk Ospek

DOKUMENTASI BONEK STIESIA, WHEN MATCHDAY COMES!!

Away Madiun


Jumat, 08 September 2017

Banyak Cerita Jadi Bonita

Oleh : Shella Wani (Bonek Campus Unesa)

Banyak yang ingin kuceritakan di sini, sepenggal kisah seru yang pernah terjadi dalam hidupku. Kisah tentang sepak bola dan segala tetek bengek yang ada di dalamnya. Kisah yang melebur menjadi cinta, persaudaraan, pengorbanan dan kesetiaan. Setidaknya bila aku sudah tua nanti, cucu-cucuku bisa membacanya dan bergumam "Ternyata mbahku dulu adalah seorang Bonita".

Aku menggemari sepak bola sedari SMP, semenjak bapakku setiap sore hari nonton bola dan aku harus benar-benar mengalah karena tak bisa menonton kartun kesukaanku. Setiap sore jadi membosankan, setiap hari harus melihat orang-orang giring-giringan bola di tengah lapangan hijau. Oper sana, oper sini lalu jatuh, kartu kuning, offside, dan apalah-apalah itu membuatku semakin geram.

Tapi lama-kelamaan aku mencoba menikmati, ketika itu Persebaya yang bertanding melawan siapa aku lupa, yang jelas aku benar-benar terhipnotis dan teriak-teriak sendiri depan layar kaca, ketika melihat permainan mereka, meskipun aku tidak paham betul segala hal tentang bola. Ternyata asyik juga, dan ikut deg-degan dengan bola yang menggelinding di gawang lawan. Lama kelamaan kutelusuri segala hal tentang Persebaya dan tentu saja suporternya.

Semua koran yang berbau Persebaya kuguntingi dan kutempelkan pada buku, dan jadilah sebuah kliping yang sangat tebal mengenai persebaya dan boneknya. Bila sampai sekarang masih kuteruskan mungkin jadi berpuluh-puluh buku, tapi sayangnya semua sudah lenyap gegara ibuku meloakkan semua buku SMP hingga SMAku.

Hingga pada akhirnya aku memberanikan diri ikut bergabung ke dalam komunitas bonek ketika menginjak bangku SMA, agar aku ada kawannya bila ingin lihat Persebaya secara langsung. Komunitas yang di dalamnya hanya ada dua orang wanita. Ya, hanya aku dan satu adek kelasku yang sudah duluan bergabung sebelumnya.

Terjun ke dalam dunia laki-laki memang menjadi resiko seorang perempuan bila diperebutkan atau digoda-goda. Jatuh cinta sesama teman komunitas, lalu putus dan melarikan diri. Ahh sudah bukan rahasia umum. Setelah kujelajahi berbagai komunitas dan akhirnya aku menyimpulkan satu hal, jangan sampai jatuh cinta kepada orang yang berada di dalam satu komunitas yang kamu ikuti. Apalagi kebanyakan komunitas itu kaum lelaki.

Untung-untungan bila yang kau cintai itu memang benar jodohmu, nah kalo masih cinta-cintaan labil, cinta monyet, mending gak usahlah sok totalitas, sok loyalitas, dan sok setia terjun dalam komunitas itu. Fokus Mencintai Persebaya saja.

Pada akhirnya impianku selama ini untuk mendukung Persebaya secara langsung segera terwujud, away day pertama, karena aku berasal dari luar kota Surabaya. Aku ingat dengan betul, dulu kami rombongan naik truk, truk yang di dalamnya dipenuhi oleh kaum lelaki, dan hanya kami berdualah yang menyandang gelar wanita. Berdesak-desakan sambil sesekali menjaga diri agar tak terjadi gesekan. Meskipun ada beberapa bocah yang sedikit agak nakal. Kami selalu berusaha menjauh dan mencari tempat yang longgar.

Berangkat pagi hari, dan sampai di Surabaya hampir sore hari. Perjalanan yang sangat melelahkan. Dan sialnya lagi ternyata truk tak boleh masuk ke dalam jalan utama menuju GBT. Pada akhirnya kami berjalan kaki dari jalan raya yang sebelum rel kereta, gak tau itu nama jalannya apa hehe. Pokoknya berasa jauh banget, kali pertama berjalan kaki sejauh itu dengan ratusan orang yang penuh sesak.

Rasa lelahku tak terasa ketika aku melihat berbagai macam bentuk orang dengan gayanya masing-masing di sekelilingku. Ternyata ini toh bonek yang banyak dibicarakan orang-orang? Bonek suporter yang banyak ditakuti lawan, bonek yang dicap doyan anarkis, bonek yang dipandang sebelah mata?


Aku mulai merinding ketika tiba di depan pintu stadion, apakah benar aku ada di sini? Atau hanya mimpi? Biarlah aku terlihat kampungan, toh ini memang benar isi hatiku yang terdalam.

Sebelum masuk stadion, kami memakan nasi bungkus yang di bawa dari rumah. Ya, kami bonek yang benar-benar bondo, membawa bekal sendiri dari rumah meskipun hanya lauk sambal goreng tempe dan telur. Kebersamaan yang sangat indah, ketika duduk melingkar makan nasi bungkus bersama di depan stadion. Bagiku itu adalah hal teromantis dibandingkan apapun.

Setelah memastikan semua anggota makan dengan kenyang, kami mengambil tiket masing-masing di salah satu koordinator, ini hal yang juga membuatku jengkel, berdesak-desakan dengan para lelaki ketika memasuki gate stadion.

Apa aku bisa? Apa aku nanti tidak akan terpisah dengan rombonganku ketika aku kalah adu kekuatan ketika ingin masuk duluan? Pikiran yang agak lugu kukira.
Pada akhirnya aku bisa masuk dengan elegan dan mulai menaiki satu persatu anak tangga yang membuat nafasku tersengal.

Sekarang mah enak, sudah disediakan jalur khusus untuk wanita dan anak-anak, aku sedikit lega karena tidak perlu khawatir lagi ketika berdesak-desakan dengan kaum lelaki.

Dari luar gate, suara itu, teriakan-teriakan itu, aura yang sudah mulai terasa. Membuat aku segera mempercepat langkah untuk segera masuk ke stadion.

JANCUK!

Satu kata yang seketika itu terlintas di dalam otakku, seketika itu darahku berdesir, melihat pemandangan hijau yang terbentang di depan mata. Benar-benar merinding dan rasanya ingin menangis, akhirnya aku bisa menginjakkan kaki di stadion setelah beberapa waktu menjadi penikmat tribun depan televisi.

Ada dua hal yang kurasakan saat itu, senang juga khawatir. Senang karena akhirnya bisa mendukung Persebaya secara langsung, dan khawatir karena aku tak berpamitan kepada orang tua bahwa aku sedang merantau sejenak ke Surabaya. Itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan, aku hanya berpamitan untuk main ke rumah teman tapi malah tersesat di kota orang. Alhasil aku dijadikan bahan pencarian seisi rumah.

Ayah, ibu, kakak, pakde, bingung mencariku kemana-mana. Menghubungiku pun tak bisa karena pada saat itu aku belum mempunyai ponsel. Aku seorang perempuan yang masih remaja, dan aku belum pulang dari pagi hingga tengah malam. Entah bisa dibilang aku sudah fix menyandang gelar bonek atau belum, karena sudah nekat ke luar kota padahal sudah jelas dilarang.

Persetan dengan gelar itu, yang pasti aku benar-benar bahagia bisa mendukung Persebaya secara langsung, bertemu dengan ribuan orang-orang yang mempunyai kegemaran sama. Meskipun pada saat pulang kami kehujanan, karena pada saat itu musim hujan. Alhasil seisi truk kebingungan dan mulai membuat atap dari terpal. Terpal yang hanya dipegangi dengan tangan di masing-masing sudutnya.

Kalian bisa membayangkan, hujan deras sekali diserati angin kencang, terpal yang sangat berat karena menampung air di atasnya serta terkadang angin berusaha menerbangkannya. Dan kami para wanita hanya bisa duduk meringkuk di dalamnya, kurang romantis gimana coba? Kami dua wanita berasa dikelilingi para pahlawan yang melindungi kami dari derasnya hujan.

Benar-benar melelahkan ketika sampai rumah hampir tengah malam. Dan sesampai di rumah benar-benar kena omelan bertubi-tubi. Aku bingung harus berkata apa, sebab aku tak berani jujur bila habis pergi ke Surabaya. Pada akhirnya ibuku tak mau berbicara padaku berhari-hari, membiarkanku begitu saja, tak mengajakku berbicara. Itu adalah hal yang menyakitkan.

Tapi lama-kelamaan beliau sudah memahami apa kegemaranku, membolehkanku melihat Persebaya, asal aku berteman dengan orang yang baik dan bisa menjaga diri sendiri. Sungguh tahun-tahun yang menyenangkan, dan masih banyak cerita tentunya. Cerita-cerita seru yang pernah kualami ketika mbonek, dan tak mungkin kuceritakan semua di sini.

Hingga pada akhirnya aku lulus SMA, dan memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Kuliah, harapan bagi semua orang agar hidup lebih baik, memiliki masa depan cerah. Tapi tidak bagiku, tujuanku kuliah adalah agar aku masih bisa bersenang-senang, tak terjebak rutinitas kerja yang menghambat aku mendukung Persebaya.

Tidak sampai di situ saja, kuliah di Surabaya juga jadi tujuan utamaku, tak peduli panasnya kota, kemacetan yang kulihat setiap hari atau tak dapat melihat gunung atau pemandangan bagus. Pikiranku dulu adalah, aku kuliah di Surabaya agar ketika mendukung Persebaya tidak kejauhan bila dari luar kota.

Tapi sial, tahun 2013 aku mulai duduk di bangku kuliah dan pada saat itu juga Persebaya di paksa mati. Mungkinkah jalanku tidak diridhoi? Ataukah aku memang ditakdirkan hadir di kota pahlawan untuk ikut serta memerjuangkan hak-hak Persebaya?
Segala macam perjuangan telah kuikuti dari bela, gruduk, ikut membuat spanduk dan segala-segalanya agar persebaya bisa berlaga kembali.

Perjuangan yang sangat panjang kukira, tapi tak sia-sia, tepat di bulan januari 2017, beberapa hari sebelum ulang tahunku, Persebaya akhirnya diakui kembali. Dan pada saat itu juga adalah hari dimana aku menanti saat-saat menjelang wisuda!

Kesialan macam apa ini? Ketika aku hampir lulus kuliah, Persebaya malah bangkit kembali. Entah ini kebetulan atau apa, yang jelas Tuhan pasti sudah menakdirkan jalanku seperti ini. Menjadi seorang pejuang meskipun tujuan awalnya hanya ingin bersenang-senang.

Kapok menjadi bonek? Kurasa itu pertanyaan yang sudah pasti jawabannya Tidak. Sebab perjuangan tidak hanya sampai di sini, masih ada perjuangan-perjuangan selanjutnya. Satu doaku lagi, semoga Persebaya bisa berlaga di kasta tertinggi negeri ini. Sudah saatnya kau pulang ke tempat asalmu sayang!

Saya wanita, saya Bonita dan saya cinta Persebaya.

 
Salam Satu Nyali Wani!

Saat Jadi Saksi HomeComing Game

Jumat, 01 September 2017

Lika Liku Menjadi Bonita

Oleh : Risa Terry (Bonek Campus Universitas Muhammadiyah Surabaya) 

Saat berumur 14 tahun, saya akrab sekali dengan 3 kata, “Persebaya” “Bonek” dan “Tawuran”. Kata yang terakhir, memang saat itu dan kadang masih berlaku sampai sekarang, image negatif tentang Bonek, mulai perusuh, hoby tawuran, yang jelek-jelek lah pokoknya. Entah karena apa. Tapi di lain sisi, saya juga sering mendapat cerita bahwa menjadi Bonek itu menyenangkan, punya keasikan tersendiri, bisa menghilangkan penat dengan seru-seruan bernyanyi didalam stadion bersama-sama. Dari sana, timbul rasa ingin nonton Persebaya pertama kali, ingin membuktikan sendiri cerita-cerita itu.

Seiring berjalannya waktu saya kerap melihat di pasar-pasar dan di pinggir-pinggir jalan banyak sekali yang berjualan kaos bergambar "Ndas Mangap". Dimana, saya tau jika yang memakai kaos "Ndas Mangap" itu pasti anak Bonek.
Sontak terpikir ........

“Wah kalo mau jadi bonek, aku harus punya nih kaos ‘Ndas Mangap'”
 “Pasti banyak ntar yang bilang aku sangar kalau aku pakai kaos ‘Ndas Mangap’”

Ya begitulah kurang lebih pemikiranku saat itu, pemikiran seorang gadis polos,14 tahun, yang tinggal di salah satu perumahan Sidoarjo tapi terbiasa berada di lingkungan yang banyak Bonek-nya, karena kebetulan ayah dan teman-temannya adalah pecinta Persebaya. Bahasa pincak-pincuk dulu sering sekali aku dengar, yang saat itu saya juga tak paham artinya. 

Kembali ke soal keinginanku membeli kaos ‘Ndas Mangap’ yang akhirnya setelah melalui proses panjang merayu ayah, saya jadi juga dibelikan kaos ‘Ndas Mangap’ yang full version (depan belakang bergambar Ndas Mangap). Daaaaan, tak tanggung tanggung, saya dibelikan tigaaa kaos langsung!! Waaaah betapa bahagianya saya saat itu, bayangan saya akan dilihat sebagai cewek sangar sudah terwujud di depan mata.

Tak berhenti dengan membelikan kaos, ayah saya pun mengajak ke stadion tambaksari, momen yang sangat aku tunggu-tunggu. Betapa excited-nya saya saat itu. Dengan kaos ‘ndas mangap’ baru, saya melihat pertandingan Persebaya untuk pertama kalinya. Saya lupa saat itu lawannya siapa, karena saya memang lebih tertarik dengan pemandangan di stadion kala itu. Pemandangan yang baru pertama kali saya lihat.

Stadion yang full dipenuhi warna hijau royo-royo, beberapa aku lihat juga Bonek yang mukanya berlumuran cat hijau, rambut pada acak-acakan, bertatto, dan kebanyakan yang saya temui juga tak memakai sandal ataupun sepatu. Dengan mengkeritkan dahi, saya hanya bisa berkata dalam hati (mbatin) .....
“Oh ini ta, Bonek yang kata orang sangar-sangar”

Sesaat kemudian, perhatian saya beralih ke nyanyian-nyanyian dukungan dari Bonek untuk Persebaya. Yang dulu, sangat susah sekali aku menghafalkan liriknya, alih alih ikutan satu suara bernyanyi, saya hanya bisa berteriak “Ayo..Ayo..Ayo” dan itupun saya pribadi juga tak mengetahui tujuan saya sendiri, yang saya tau hanya ingin ikut serta seru-seruan mendukung Persebaya. Tak hafal lirik nyanyian gapapa deh, toh tak ada yang memperhatikan juga.

Saya ingat sekali, pada jeda babak pertama, ada seorang ibu berbaju orange, berambut pendek yang menawarkan lumpia.

 "Nak beli lumpianya nak, biar ngga lapar"

Seketika itu juga, perutku langsung lapar karena melihat tumpukan lumpia yang masih hangat. Dan, sudah bisa ditebak, saya akhirnya membeli lumpia tersebut. Yang efeknya sampai sekarang saya doyan banget sama lumpia di stadion. Pasti menjadi agenda wajib yang harus saya beli tiap datang langsung saat match Persebaya.

Selain terpana karena kondisi / atmosfer stadion, saya juga terpana ketika pandangan mata saya jatuh kepada mbak-mbak berambut pendek, dikuncir 2, memakai kaos Persebaya, dan bersepatu. Dia berhasil menyita pandangan saya dalam waktu yang cukup lama, karena baru dia yang untuk pertama kalinya saya lihat tampil modis di stadion.
Sekali lagi saya berangan-angan dan mbatin ....

“Kalau sudah besar aku mau ahh kayak mbak itu, selain modis, mbak itu juga berani duduk dipagar, berani bernyanyi, berteriak-teriak bareng temen-temen cowonya”

Karena, saya dahulu memang culun sekali, stigma anak “mama dan ayah” sangat melekat di diri saya.

Setelah selesainya pertandingan pada saat itu, yang saya juga lupa berapa skor akhirnya (sekali lagi karna saya tidak fokus pada pertandingannya, saya terpana melihat pertama kali anak-anak bonek dengan kekompakannya saat mendukung Persebaya) saya melihat banyak yang berjualan kaos, syal, topi dan aksesoris lainnya yang bertemakan Persebaya tentunya. Yang saya terpikir, suatu saat harus punya semua aksesoris itu.


Setahun kemudian, tak terasa setelah mengumpulkan pelan-pelan, sudah banyak aksesoris / atribut bertemakan Persebaya milik saya. Mulai kaos, topi, syal bahkan sepatu pun saya sudah punya semua. All about Persebaya. Saya juga sering sekali update pertandingan-pertandingan Persebaya di koran pagi milik ayah, bukan karena pertandingannya tapi lebih karena ingin melihat berita kekompakan anak anak bonek didalam stadion.

Memasuki bulan Juni 2012 tanggal 1, seperti biasa saya membaca koran pagi, dan disana tertera jadwal pertandingan Persebaya. Tanggal 3 Juni 2012 tepatnya, Persebaya akan bertanding melawan Persija. Awalnya saya dan ayah sudah memutuskan harus berangkat menonton, Big match kan sayang kalo tak nonton langsung. Dan, entah itu feeling dari seorang mama, saya dan ayah tak diijinkan untuk berangkat ke Surabaya dukung Persebaya.

Pagi ke siang, siang ke sore, sore ke malam. Hingga muncul berita di TV, malam itu.... ya malam itu, malam yang berhasil membuat saya menangis, menangis karena diberitakan bonek bentrokan dengan polisi, saya tak menyangka anak bonek yang selalu ceria didalam stadion kenapa bisa seperti itu. Suasana hati saya juga campur aduk saat itu, bingung, sedih, kesal juga. Bingung karena, saya pribadi bertanya-tanya benarkah anak bonek bisa seperti itu tanpa ada penyebabnya. Karna saya tau, bonek yang penampilannya memang identik sangar-sangar itu, sejatinya mereka baik-baik, tak seperti image negatif yang sering media berikan.  

Setelah melihat itu bersama orangtua saya, saya melihat ekpresi kekecewaan dari ayah dan mama saya, saya menduga mereka berdua telah menyesal mengenalkan saya dengan Persebaya dan Bonek. Dan, saya tahu dugaan saya benar, setelah keputusan akhirnya orangtua saya membuang segala macam atribut yang saya bangga-banggakan, atribut yang membuat saya terlihat lebih sangar, atribut yang sudah saya kumpulkan selama setahun kebelakang, atribut yang sudah saya persiapkan untuk saya kenakan saat dewasa nanti dan tentu akan menjadi barang-barang yang punya cerita indah kelak. Tapi semua sirna... semuanya hilang, dibuang orangtua saya, mulai kaos, syal, topi, sepatu, semuanya tak dapat saya temukan lagi. Selain itu, tak ada lagi koran pagi ayah yang biasanya jadi sarana saya tau kabar berita tentang Persebaya. Benar-benar sedih saya saat itu.


Setelah menunggu berhari-hari, berbulan-bulan, setelah saya kehilangan koran pagi serta atribut Persebaya, akhirnya hari itu datang. Hari yang menghapus kesedihan saya, saat ayah saya memberi sebuah nasihat / janji lebih tepatnya akan mengijinkan saya mendukung Persebaya lagi.

Melalui perkataan sederhana ......

"Ica, kalau kamu sudah bisa cari uang sendiri, boleh beli baju ndas mangap lagi, boleh beli yang banyak, boleh jadi mbak-mbak yang duduknya di pagar kalau lihat Persebaya, boleh jadi apapun yg kamu mau asal bisa jaga diri”

Perkataan yang akan selalu saya ingat. Hari berlalu berganti bulan, dan bulan berganti tahun. Saya sungguh merindukan suasana stadion, saya merindukan lumpia, saya merindukan kekompakan anak-anak Bonek lagiL.
Akhirnya, diumur 19 tahun saya mulai bekerja, bisa cari uang sendiri. Gaji pertama saya, saya gunakan untuk beli baju Persebaya lagiii. Mengikuti perkembangan berita tentang Persebaya lagi, Yeaaay.

Dan, setelah sekian lama, moment yang saya rindu-rindukan telah kembali. Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya Bonek bersama-sama telah berhasil mengembalikan Persebaya ke kancah sepakbola lagi. Kini saatnya, saya kembali memakai atribut bertemakan Persebaya lagi, yang kini designnya lebih kreatif-kreatif. Saatnya, memasuki stadion dengan semangat baru. Tak ada lagi yang perlu ditakutkan kala datang ke Stadion.

Kini bisa kita lihat wajah Bonek dengan image baru. Image yang perlahan-lahan menujukkan jika Bonek telah berubah ke arah yang lebih baik. Bonek yang mengajarkan saya arti kesetiaan terhadap kebanggaan, mengajarkan arti kesetiakawanan, kekeluargaan, dan mengajarkan arti nasionalisme yg tinggi. Kini saya bangga menjadi seorang BONITA (Bonek Wanita) yg ngga culun lagi meskipun masih takut duduk di pagar. HAHA.

Bersama Zoro, Salah Satu Maskot Persebaya

Bersama Rekan-Rekan Bonek UMS 

Terakhir, ini cerita saya, cerita dari mulai saya baru tau apa itu supporter apa itu Persebaya. Sampai kini, dan selamanya, kebanggaan saya tetap Persebaya.

Semoga tulisan ini, bisa membuat kalian lebih bangga dengan Persebaya. Yuk Mbonek.